Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Gotong Royong di Makassar, Ewako!

Mereka yang berjumlah sebanyak 60 orang bekerja secara bergantian selama 24 jam. Targetnya setiap hari memeriksa ribuan spesimen.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Gotong Royong di Makassar, Ewako!
Istimewa
Ahmad Al Ghozi Ramadhan 

Ia kembali ke Bangka untuk sekolah SMA--di SMAN 3 Pangkalpinang.

Setamat SMA Al Ghozi ke Bandung. Masuk Politeknik Padjadjaran. Jurusan Perhotelan. Di situ hanya setahun. Merasa hatinya tidak cocok.

Passion-nya ternyata di dunia digital. Ia masuk D-3 STT Telkom (Telkom University) juga di Bandung. Ia pilih Jurusan Informatika.

"Saya kuliah sambil cari uang," ujar Al Ghozi. Ia tidak sampai hati meminta kiriman uang dari ayahnya.

"Waktu semester 5 saya nge-Gojek," katanya.

"Berarti saat itu sudah punya sepeda motor?" tanya mantan Menteri BUMN itu.

"Motornya teman. Ada perhitungannya," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu Al Ghozi jualan donat. Ke asrama-asrama mahasiswa.

"Orang tua Anda tahu?"

"Tidak tahu. Ayah tahunya kuliah saya lancar," katanya.

Tahun lalu Al Ghozi tamat D-3. Anak nakal ini pun sudah bisa membuat beberapa program komputer.

Karya anak muda berusia 22 tahun itu pertama kali diapresiasi Wakil Bupati Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Isyak Meirobie. Setelah sukses digunakan di sana, ditawarkan kepada Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman.

Kemudian berlanjut ke Kepulauan Riau dan Surabaya. Sudah menunggu Provinsi Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara. Ghozi siap mengembangkannya ke provinsi lain.

Baca: Update Corona Global 27 Juli 2020: Pasien Sembuh Capai 10 Juta, di AS 2 Juta Sembuh, Brasil 1,6 Juta

Millenial bertubuh subur ini hanya butuh waktu lima hari untuk menyelesaikan desain pertama aplikasi tersebut. Dia bekerja siang dan malam bersama teman-temannya.

"Niat saya awalnya cuma membantu penanggulangan Covid-19 ini. Saya sangat sedih saat pertama kali mengetahui ada dokter yang meninggal karena terpapar covid itu. Hal tersebut mendorong saya dan teman-teman membuat aplikasinya," jelas Al Ghozi.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas