Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Jakob Oetama Meninggal Dunia

Jakob Oetama

Pak Jakob adalah orang yang santun –santun yang linier. Itu tercermin dari gaya pemberitaan koran yang dilahirkannya: Kompas.

Editor: Setya Krisna Sumarga
Jakob Oetama
TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO
Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jocob Oetama, menyerahkan buku kepada sangpenulis yaitu Menteri BUMN Dahlan Iskan, di acara peluncuran 3 buku, tulisannya berjudul, Dua Tangis dan Ribuan Tawa, Ganti Hati serta Tidak Ada yang Tidak Bisa, di Kompas Gramedia Fair, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Rabu (29/2/2012) (TRIBUNNEWS.COM/FX ISMANTO) 

Pak Jakob adalah orang yang sabar, kalem, tenang. Kalau berjalan tidak bergegas, kalau bicara  lirih, ritme kata-katanya lamban dan wajahnya lebih sering datar –tidak bisa terlalu kelihatan gembira atau terlalu kelihatan sedih.

Pak Jakob, karena itu, adalah simbol sosok orang Jawa yang sangat sempurna. Kepindahan beliau ke Jakarta tidak membuat beliau berubah menjadi ''lu gue''.

Tidak seperti saya: begitu pindah ke Surabaya langsung ikut menjadi bonek. Kesantunan Pak Jakob itu mungkin karena budaya desa di Jawa Tengah sangat merasuk ke jiwanya.

Mungkin juga karena roh Borobudur ikut mewarnainya. Mungkin sekali latar belakangnya sebagai guru masih terus terbawa.

Mungkin pula kultur sekolah Seminari Katolik masih ada padanya –meski beliau tidak menyelesaikan seminarinya.

Rambut beliau lurus tapi dibiarkan agak panjang. Ibarat guru besar, Pak Jakob itu sempurna karena linier. Tidak seperti saya yang zig-zag: tamat SMA di Magetan langsung ke Kalimantan.

Kawin pun dengan galuh Banjar, lalu jadi bonek, dan menjelang tua harus mengganti hati saya dengan hatinya orang Tionghoa dari Tianjin.

Pak Jakob adalah orang yang santun –santun yang linier. Itu tercermin dari gaya pemberitaan koran yang dilahirkannya: Kompas.

Jurnalistik Kompas adalah jurnalistik yang santun. Terutama bisa dilihat dari Tajuk Rencananya. Yang bagi pengkritiknya dianggap sebagai tajuk dengan gaya yang muter-muter.

Di era saya muda, gaya Kompas seperti itu sangat menjengkelkan. Tidak radikal sama sekali. Tidak seperti Harian Kami-nya Nono Anwar Makarim yang dar-der-dor.

Halaman
1234
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas