Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Fenomena Neo Khowarij NU dan Khittoh 1926

Gagasan kembali ke Khittah 1926 dari segelintir internal Kyai NU adalah gagasan ideal.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Husein Sanusi
zoom-in Fenomena Neo Khowarij NU dan Khittoh 1926
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Golongan mayoritas yang berpikir kritis memandang siapapun orangnya, termasuk ormas keagamaan, memerlukan perjuangan multidimensional. NU pun demikian. Sebagai ormas besar, anggota NU memiliki karakter beragam, secara pemikiran, sikap keagamaan, bahkan pilihan politik. Karenanya, berbagi ranah perjuangan jauh lebih relevan daripada mengarahkan kapal NU ini ke satu dimensi Sosial-Keagamaan semata, dan mengabaikan dimensi politik.

Problem utama ormas NU saat ini, bukan saja perseteruan dengan kelompok kecil neo khawarij "NU garis lurus" yang sekarang berubah nama menjadi Komite Khitthah 1926. Tetapi, analisis para pakar yang menyebut NU terbagi aliran kiri liberal, kanan fundamental, dan tengah moderat, juga sebuah persoalan besar. Meributkan keragaman ideologi dan kubu-kubu dalam tubuh NU tidaklah etis, sebab ormas NU sendiri adalah teladan dalam mencontohkan persatuan dalam keragaman. Bagaimana mungkin mengusung slogan menjaga keutuhan NKRI, sementara keutuhan ormas sendiri gagal dipertahankan. Bagaimana mungkin menghargai perbedaan suku bangsa, agama dan keyakinan bangsa, sementara perbedaan ideologi di internal NU sendiri gagal dilestarikan.

Hemat penulis, melihat rekam jejak ormas NU yang mulai dilirik dunia internasional, perhatian negara superpower yang besar terhadap Banser dan GP Anshor, serta tokoh-tokoh muda NU yang secara intelektual mendapatkan tempat dalam kancah politik Nasional dan Internasional, maka segelintir kyai NU yang mengatasnamakan NU garis lurus dan berubah wujud menjadi komite khittah 1926, mohon jangan menjadi batu hambatan. Apalagi dengan mendirikan organisasi tandingan NU, ingatlah siapapun yang merusak NU akan kuawat dan mencerderai seluruh warga nahdiyyin, Segala persoalan internal jangan sampai bocor ke mata publik. Apakah betul-betul sulit masalah internal kita diselesaikan secara kekeluargaan?.[]

*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.

Rekomendasi Untuk Anda
Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas