Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Mis dan Diplomasi Moderasi NU: Dari Nusantara Untuk Arab Saudi dan Dunia

Dalam konteks kemanusiaan, peradaban adiluhung, dan perdamaian dunia, hari ini merupakan detik-detik krisis umat manusia.

Gus Mis dan Diplomasi Moderasi NU: Dari Nusantara Untuk Arab Saudi dan Dunia
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Gus Mis dan Diplomasi Moderasi NU: dari Nusantara Untuk Arab Saudi dan Dunia

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Baru-baru ini politik dunia kita semakin memanas. Ketegangan di Laut China Selatan nyaris mempertemukan negara-negara adidaya seperti Eropa, Amerika, China, di medan laga. Tidak cukup di situ, Putri Mantan Diktator Irak Saddam Hussein, Raghad Saddam Hussein, muncul di televisi Al-Arabiya, sembari menyeret peran Arab Saudi dan Yordania, serta membuka peluang dirinya akan aktif dalam politik Irak. Kritik pedas publik Irak berhamburan dan banyak pihak menyayangkan penayangan acara televisi tersebut.

Dalam konteks kemanusiaan, peradaban adiluhung, dan perdamaian dunia, hari ini merupakan detik-detik krisis umat manusia. Hampir tidak ada negara adidaya yang patut dibanggakan dalam hal penegakan perdamaian. Beberapa hari yang lalu, negara-negara Barat yang vokal menyuarakan gerakan anti-nuklir mendapatkan cibiran dan ledekan dari Iran, ketika bungkam seribu bahasa atas sikap Israel yang terlihat memperluas fasilitas nuklir.

Peta geopolitik hari ini menunjukkan krisis keteladanan, tiada titik-titik dunia yang betul-betul aman dari konflik antar negara. Sekalipun medan laga berpusat di Asia, namun aktor-aktor yang terlibat hampir seluruh benua; Eropa dan Amerika. Hal ini mengingatkan kita pada kisah kolosal perang Mahabarata, Perang Dunia Satu dan Dua. Sekaligus menandai berakhirnya Perang Dingin dan detik-detik menuju Perang Bersenjata Jilid III.

Dalam konteks politik dunia semacam ini, penting kiranya menimbang Poros Global Indonesia, baik di tingkat Asia umumnya dan Timur Tengah khususnya. Timur Tengah memiliki posisi istimewa di mata Indonesia karena bukan sekedar untuk mengejar tujuan material-duniawi, seperti hubungan bilateral, perdagangan, ketenakerjaan. Lebih dari itu, Timteng adalah wilayah spiritual, khususnya Arab Saudi, bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim.

Kemunculan Raghad Saddam Hussein yang menyeret Arab Saudi membutuhkan sikap politik dari Indonesia, setidaknya demi kepentingan dan tujuan nasional kita. Hal itu bisa kita wakilkan kepada Dubes Indonesia untuk Arab Saudi, dan karenanya diperlukan betul sosok yang memiliki kapasitas intelektual dan kekuatan politik untuk mewujudkan tujuan nasional, yang antara lain: merepresentasikan Indonesia sebagai potensi besar cita-cita dunia untuk mewujudkan Perdamaian Abadi.

Indonesia memiliki ormas besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU), yang sedari awal mengusung spirit Islam Rahmatan Lil Alamin. Logo NU juga menyiratkan simbol bola dunia yang diikat oleh tali persaudaraan, yang membuat bumi kokoh dan tidak goyah. Ini bukan sekedar keyakinan primordial di kalangan internal NU melainkan pemerintah dapat bekerjasama dengan NU untuk kepentingan di tingkat global. Hemat penulis, kader NU yang berkualitas global tidak sedikit dan melimpah ruah, Gus Mis salah satu di antaranya.

Seingat penulis, ketika penulis mendapat amanah sebagai Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Cabang Mesir (1999), salah satu "think-thank" penulis adalah saudara Zuhairi Misrawi, salah satu kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus PDIP. Zuhairi yang belakangan dikenal sebagai Gus Mis itu memang Istiqomah di PDIP sejak masih mahasiswa hingga sekarang.

Sejauh persahabatan dengan Gus Mis selama ini, penulis mencatat dua perkembangan pemikiran atau intelektualismenya. Pertama, periode Mesir. Kedua, periode Indonesia. Pada periode Mesir, Gus Mis mencita-citakan dua ideologi yang dikembangkan oleh Jamal Abdul Naser dan Ir. Soekarno. Pada periode Indonesia, yakni ketika Gus Mis telah pulang ke Tanah Air, berbagai dialog dengan penulis menunjukkan dirinya betul-betul mengagumi gagasan warga Nahdliyyin pada umumnya tentang Poros Global Moderasi Islam. NU mencerminkan satu-satunya leading sector dalam hal ini. Internasionalisme Ir. Soekarno menemukan pijakan kuat dalam Islam Rahmatan Lil Alamin ala NU.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas