Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Filateli

Filateli Sebagai Investasi, Masih Relevan kah ?

Sangat wajar jika beberapa kalangan akhirnya memilih untuk membeli benda filateli dengan harga murah asalkan sedap dipandang mata.

Filateli Sebagai Investasi, Masih Relevan kah ?
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Seorang filatelis Indonesia memegang prangko termahal di Indonesia Pos Militer Surakarta, satu blok terdiri dari 8 prangko dan Sertifikat Keaslian dari Corinphila & Dai Nippon Philatelic Society. Prangko-prangko termahal Indonesia sebagai bagian dari investasi para filatelis Indonesia. 

Pada komunitas lainnya, terdapat beberapa filatelis yang memfokuskan diri untuk membangun koleksi akumulasi seperti mengumpulkan seluruh prangko Indonesia pada zaman pendudukan Jepang atau prangko terbitan pemerintah Hindia Belanda dalam beberapa dekade.

Koleksi seperti itu memang bisa diharapkan bernilai investasi, tetapi seringnya para kolektor ini pun lebih bangga dengan kemampuan mereka melengkapi koleksinya ketimbang dengan nilai koleksinya.

Selain dari pandangan tersebut, faktor lain penyebab tidak relevannya menjadikan filateli sebagai ajang investasi adalah kenaikan harga benda filateli yang tidak bisa diprediksi.

Bahkan harga katalog pun seringkali tidak bisa dijadikan rujukan karena bisa berselisih sampai 50 persen dengan harga pasar.

Banyak kejadian di mana suatu benda digadang-gadang sebagai barang langka namun beberapa tahun kemudian justru harganya jatuh.

Nah, kejatuhan tersebut disebabkan oleh adanya permainan para oknum pedagang yang menimbun barang untuk membuat kesan ‘langka’ serta menaikkan permintaan pasar.

Sayangnya hal ini tidak sepenuhnya benar karena banyak di antara para elit filateli justru memutar balikkan kondisi dan membingungkan pedagang.

Baca juga: Bukan Hanya Prangko, Filatelis Banyak Memburu Barang-barang Langka

Salah satu kasus kontroversial adalah ketika merebak rumor bahwa mulanya terdapat dua keping British Guiana One Cent Black on Magenta pada koleksi seorang kolektor namun akhirnya si kolektor sengaja merobek salah satunya demi menaikkan nilai yang satunya lagi.

Bagi mereka membeli barang mahal bukanlah impian, tetapi membeli barang tak teridentifikasi lalu menjadikannya mahal melalui penelitian, dedikasi, dan keberuntungan merupakan impian terbesar.

Guna mewujudkan mimpi tersebut, seorang filatelis tentu harus mendapatkan barang yang kurang dihargai dan dianggap (underrated and understated) namun sulit didapat.

Halaman
123
Editor: Dewi Agustina
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas