Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Lima Alasan Cak Imin Cocok Jadi Ketua Umum PBNU

Dalam sudut pandang sosiologi politik, PBNU membutuhkan figur pemimpin yang ideal. Penulis melihat kualitas itu terdapat pada sosok Cak Imin.

Lima Alasan Cak Imin Cocok Jadi Ketua Umum PBNU
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

5 Alasan Cak Imin Cocok Jadi Ketum PBNU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Nahdlatul Ulama adalah organisasi sosial berbasis agama, yang lahir dari figur-figur waliyullah dan guru bangsa. Tidak diragukan lagi, peran sang waliyullah Syaikhona Khalil Bangkalan bagi NU sangat sentral. Sementara Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari adalah inspirasi putra-putri bangsa sepanjang zaman, sejak fatwa resolusi jihad yang masyhur itu. Semenjak itu, citra NU sebagai organisasi para wali dan pahlawan terus melekat di benak masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, NU berkembang dari organisasi yang berlevel domestik menjadi organisasi lintas nasionaliti. Berbagai cabang istimewa dibentuk di berbagai negara, baik benua Eropa, Amerika, China, Timur Tengah, dan lainnya. Pada titik inilah, NU sebagai organisasi semakin membutuhkan keterlibatan lebih aktif para waliyullah dan pahlawan-pahlawan bangsa. Tentu peran para waliyullah ini cukup melalui munajat dan doa-doa mereka secara kultural. Tetapi, secara struktural, kualitas dan kapabilitas pengurus PBNU adalah syarat utama yang tidak dapat ditawar.

Dalam sudut pandang sosiologi politik, PBNU membutuhkan figur pemimpin yang ideal. Penulis melihat kualitas itu terdapat pada figur Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si. (55), untuk memimpin NU di level struktural. Setidaknya ada lima sudut pandang yang bisa dipertimbangkan: relasi masyarakat dengan negara, perilaku individu, suara pemilih, identitas sosial, dan partisipasi politik. Lima aspek ini sebagai indikator mengukur kualitas dan kapabilitas leader PBNU masa depan.

Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan dalam membangun relasi yang kuat antara masyarakat dan negara. Relasi ini dibutuhkan bukan semata agar rakyat aktif mengawal kebangsaan melainkan juga menangani konflik politik dan kepentingan. Sementara NU adalah ormas terdepan dalam mengawal isu kebangsaan dan harmoni masyarakat, karena pemimpin yang mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bernegara dan terlibat aktif dalam menangani konflik politik yang terus meruncing, sangat diperlukan.

Cak Imin (panggilan akrab Abdul Muhaimin Iskandar) telah membuktikan kualifikasi tersebut. Internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sempat dihantui oleh perpecahan dan konflik. Namun, nyatanya Pilpres 2019 kemarin menampilkan citra PKB yang berhasil mengatasi riak-riak perpecahan politik dengan baik. KH. Ma’ruf Amin diantarkan oleh PKB sebagai simbol yang mampu menyatukan suara politik banyak kubu. Ini kredit point untuk menilai kemampuan politis Cak Imin merekatkan seluruh masyarakat dan mengatasi konflik kepentingan.

Dengan tampilnya KH. Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden, semangat kaum santri dan komunitas pesantren, sebagai basis utama massa PKB, semakin bergelora. Sehingga pada pagelaran Pilpres 2024 nanti, target utama bukan lagi Wakil Presiden melainkan mengembalikan romantisme era Gus Dur, yakni menduduki kursi RI 1 sebagai Presiden Republik Indonesia. Cak Imin telah mencalonkan dirinya sebagai RI 1.

Kedua, perilaku politik individu Cak Imin. Penulis juga melihat ada karakter yang ulet, lincah, bahkan ‘licin’ bagaikan belut. Sekalipun gagal mencalonkan diri jadi Wakil Presiden pada Pilpres 2019, Cak Imin tetap berhasil mendelegasikan KH. Ma’ruf Amin jadi Wakil Presiden. Jadi, tidak penting Cak Imin gagal lagi mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pilpres 2024 nanti, selama memang berhasil mengantarkan salah satu kadernya jadi RI 1.

Satu hal yang perlu diingat selalu, bahwa politik adalah persoalan strategi, rekayasa, bahkan kamuflase. Jangan heran bila ada orang yang sejati baik namun kalah strategi maka ia akan jatuh pada jebakan politik lawan dan hancur karier politiknya. Sebaliknya, jangan heran pula jika ada orang yang bersalah, melanggar hukum, tetapi sangat sulit ditangkap. Semua itu berkaitan dengan soal strategi masing-masing individu. Realitas politik semacam ini perlu dipahami dan didekati dengan realisme politik, bukan semata-mata idealisme. Penulis melihat, konflik politik yang mengarah pada destruktif sering muncul dari pertempuran antara golongan realis dan idealis; antara yang memahami lapangan dan mencita-citakan visi ideal.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas