Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Jelang Muktamar NU, Inilah Kriteria Ideal Ketum PBNU

Ada lima aspek ideal untuk masuk dalam kriteria calon ketua umum PBNU.

Jelang Muktamar NU, Inilah Kriteria Ideal Ketum PBNU
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Jelang Muktamar NU, Inilah Kriteria Ideal Ketum PBNU

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Andai bukan karena pandemi covid-19, Muktamar NU sudah dapat diselenggarakan di tahun 2021 ini. Terlepas kapan muktamar ideal diselenggarakan, agenda paling mendesak di ruang publik adalah mendiskusikan kriteria ideal calon ketua umum di masa depan. Diskusi terbuka akan menyehatkan proses politis pemilihan ketum di muktamar nanti.

Kriteria ideal bagi calon Ketum PBNU masa depan, setidaknya, mencakup lima aspek. Semua aspek ini diformulasikan berdasarkan perkembangan realitas sepak terjang NU sendiri, lebih-lebih beberapa dekade terakhir. Secara umum, NU adalah organisasi besar, sehingga butuh nakhoda yang juga bervisi besar.

Pertama sekali, kriteria ideal bagi calon Ketum PBNU harus mewakili kaum milenial. Bagaimana pun juga kita tidak dapat memungkiri, kaum muda milenial adalah dunia tersendiri. Seorang ketua umum harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan kalangan muda milenial ini.

Kaum Milenial menjadi sangat penting nilainya, karena mereka adalah generasi yang paling potensial mempertahankan ideologi NU di masa depan. Mau tidak mau, para sesepuh NU dipaksa oleh waktu untuk mewariskan tampuk pengaruh, karisma, bahkan pengalamannya kepada generasi milenial. Dengan begitu, proses kaderisasi berlangsung, dan komunikasi antar sesama generasi milenial pun terbuka.

Sebaliknya, jika Ketum PBNU tidak punya kedekatan yang kuat dengan dunia maupun generasi milenial, maka hal ini akan berbahaya bagi jam’iyah. Kita tidak dapat membayangkan NU menjadi tidak kontekstual bagi generasi mendatang. Di satu sisi kita percaya, organisasi ini dibentuk dan dijaga oleh para waliyullah. Di sisi lain, kita pun harus lebih rasional mengelola organisasi warisan para wali ini.

Salah satu upaya merasionalisasi tata kelola organisasi besar ini adalah mencari pemimpin yang kontekstual dengan zaman, yang mampu dengan baik mensosialisasi ideologi NU, ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin, dan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Yang memiliki media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, dan lainnya dengan follower jutaan. Kriteria ini, salah satunya, ada pada sosok Cak Imin (Ketum PKB).

Kedua, tidak cukup memiliki pergaulan luas dengan kaum milenial, tetapi juga memiliki pengalaman politik yang bagus. Satu hal penting, walaupun NU menggarap politik kebangsaan, tetapi politik kekuasaan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Itu berdasar pengalaman 10 tahun terakhir. Sebaliknya, jika tidak, maka NU akan menjadi bulan-bulan bahkan objek dari setiap agenda politik kekuasaan yang datang dari luar.

Pemimpin NU masa depan tidak lagi sebatas bertujuan membesarkan jam’iyah, tetapi juga menjadikan warga Nahdliyyin sebagai “agen” utama politik kebangsaan. Salah satu perangkat menjadi “agen kebangsaan” tersebut adalah memiliki kekuasaan, yang diraih melalui politik kekuasaan. Politik kebangsaan tanpa politik kekuasaan akan menjadi arus pinggiran.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
Tribun JualBeli
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas