Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Muktamar NU

Rivalitas HMI versus PMII : Perebutan Kursi Ketum PBNU di Muktamar NU Ke-34

Dua organisasi ini sekarang sedang memiliki jagoan masing-masing, antara lain Muhaimin Iskandar (PMII) versus Yahya Cholil Staquf (HMI)

Rivalitas HMI versus PMII : Perebutan Kursi Ketum PBNU di Muktamar NU Ke-34
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Rivalitas HMI versus PMII : Perebutan Kursi Ketum PBNU di Muktamar NU Ke-34

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc.MA*

TRIBUNNEWS.COM - Bulan Desember 2021 mendatang, warga Nahdliyyin memiliki hajatan besar, yaitu Muktamar NU yang ke-34 di Lampung. Momentum ini bukan semata-mata momentem warga Nahdliyyin umumnya dalam mencari ketua umum yang betul-betul visioner ke depan. Lebih dari itu, muktamar akan menjadi hajatan kaum akademisi dan intelektual NU dari kalangan muda, antara lain kelompok mahasiswa. Para mahasiswa bersama PBNU akan menentukan langkah awal kebangsaan di masa depan.

Mahasiswa yang cukup populer dan memiliki sejarah perjuangan panjang antara lain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dua organisasi ini sekarang sedang memiliki jagoan masing-masing, antara lain Muhaimin Iskandar (PMII) versus Yahya Cholil Staquf (HMI).

Dengan begitu, Muktamar NU ke-34 di Lampung akan menjadi Medan Tempur para pendukung Cak Imin dan Gus Yahya; siapa yang akan keluar jadi pemenang, sulit diprediksi. Apakah politisi ulung sekaliber Cak Imin, atau intelektual yang moncer di kelas internasional Gus Yahya, yang kontroversial karena kunjungannya ke komunitas Yahudi Israel.

Hal penting yang patut digarisbawahi, satu-satunya anak ideologis NU di lingkungan mahasiswa adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tidak ada organisasi mahasiswa yang sanad keilmuan, intelektualitas dan spiritualitas yang lahir dari NU selain PMII. Walaupun pada kenyataannya ada warga Nahdliyyin yang aktif di organisasi lain seperti di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan lainnya. Tetapi, secara ideologis, PMII lah yang mewarisi ideologi NU, bukan HMI dan lainnya.

Hubungan PMII dan NU sepenuhnya mirip, walau tak sama, dengan hubungan PKB dan NU. Satu-satunya partai politik yang lahir dari ideologi NU hanyalah PKB, walaupun pada kenyataannya ada warga Nahdliyyin yang aktif di parpol lain seperti PPP, Golkar, PDI-P, dan lainnya. Hubungan ideologis ini menjadi penting dibicarakan bukan semata-mata bersifat emosional, melainkan sepenuhnya persoalan social networking.

Di masa depan, tanggung jawab yang diemban Nahdliyyin/PBNU tidak ringan. Setidaknya ada dua ranah garapan yang berbeda; level domestik dan level global. Di tingkat domestik, Nahdliyyin diharapkan berkontribusi pada pemenuhan hajat nasional dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri. Di tingkat global, Nahdliyyin/PBNU dibutuhkan untuk turut berkiprah menata peradaban dunia yang kompleks dan multidimensional.

Keluarga Besar PMII dengan mendukung kader terbaik mereka menjadi Ketua Umum PBNU di masa depan akan lebih mudah mengakses jalur-jalur pengabdiannya, baik di tingkat domestik maupun global. Ada banyak sekali kader-kader terbaik PMII yang pantas duduk menjadi Ketum PBNU, selain Muhaimin Iskandar, ada juga yang lain seperti: Nusron Wahid, Ali Masykur Musa dan lainnya yang tidak bisa satu persatu disebut di sini.

Nama-nama figur besar publik di atas masuk ke dalam radar poling calon Ketua Umum PBNU. Ini artinya, banyak kader terbaik PMII dinilai menjadi harapan besar warga Nahdliyyin untuk menakhodai NU di masa depan. Dengan mendukung kader terbaiknya maju ke bursa Ketum, maka PMII tidak saja terhubung dengan PBNU secara ideologis melainkan juga secara jaringan sosial (social networking).

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas