Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Oksidentalisme Hassan Hanafi, Jalan Kedaulatan Kita

Hassan Hanafi mengingatkan, selama ini gerakan kritik kita kepada Barat sangat sedikit dan dilakukan tanpa metode dan logika argumentatif.

Editor: Husein Sanusi
Oksidentalisme Hassan Hanafi, Jalan Kedaulatan Kita
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Oksidentalisme Hassan Hanafi, Jalan Kedaulatan Kita

Oleh: KH. Imam Jazuli,Lc.MA*

TRIBUNNEWS.COM - Hassan Hanafi (1935-2021), seorang doktor filsafat dari Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (1966), pergi meninggalkan pusaka yang berharga: oksidentalisme atau al-istighrab. Kita banyak berhutang budi pada Hanafi dalam hal membangun relasi ideal antara Barat dan Timur. Terlebih dalam cara membaca literasi timur, literasi barat, dan menyikapi realitas hari ini.

Dalam karyanya berjudul “Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab”, Hassan Hanafi mengingatkan, selama ini gerakan kritik kita kepada Barat sangat sedikit dan dilakukan tanpa metode dan logika argumentatif. Gerakan-gerakan perbaikan yang kita lakukan, pembaruan, pendidikan, dan peraturan hanya mencukupkan diri pada asas iman atau membela membabi buta kepentingan-kepentingan hukum (Hanafi, 1991: 15).

Sementara peradaban Barat digambarkan oleh Hassan Hanafi sebagai lahir dari perlawanan terus-menerus terhadap otoritas pusat (al-markaz). Jika sumber otoritas itu tidak sesuai dengan akal rasional, tidak menjawab kebutuhan zaman, maka mereka segera membangun pengetahuan rasional, alamiah dan kemanusiaan yang berpijak pada perangkat pengetahuan baru. Mereka berpijak pada metode historis, marxis, sosiologi, humaniora, sebelum kemudian mengkritisi kembali prinsip-prinsip epistemologinya (Hanafi, 1991: 17).

Pada mulanya, menurut Hassan Hanafi, peradaban Eropa memang mengingkari kemapanan (al-tsabat) karena prinsip perubahan (al-taghayyur). Tetapi, pada gilirannya mengingkari perubahan, karena tidak ada lagi hal lain selanjutnya (la syai-a tsaniyan). Karenanya, Hanafi menyebut peradaban Eropa ‘katathawwurin sharfin duna bina-in’. Sebuah perkembangan murni tanpa kemapanan (Hanafi, 1991: 17).

Dengan spirit perubahan terus-menerus, Peradaban Eropa kata Hassan Hanafi berhasil menjadi simbol al-Taghrib atau westernisasi. Bukan saja mempengaruhi kebudayaan dan cara pandang melihat kehidupan, tetapi pengaruh Eropa juga merambah pola hidup sehari-hari, kebiasaan berbahasa, bahkan style bangunan. Hassan Hanafi mencontohkan kata-kata Perancis yang merasuki dan mengubah penulisan bahasa Arab (Hanafi, 1991: 22).

Santri-santri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon menyadari betul kegelisahan intelektual Hassan Hanafi. Itu tidak saja terjadi di dunia Arab yang terjajah Perancis, dalam pengalaman personal Hassan Hanafi. Tetapi juga menimpa Indonesia, yang terjajah bukan saja oleh peradaban Barat tetapi juga oleh peradaban Timur, seperti Jepang, China, Korea, dan lainnya.

Perhatikanlah bagaimana generasi milenial kita terpeso dan mabuk cinta oleh drama-drama Korea, anime-anime Jepang, dan produk-produk China yang bahkan berupa kebutuhan sehari-hari ibu rumah tangga di dapur. Kita tidak perlu jauh-jauh bicara media sosial, seperti instagram, whatsapp, twitter, facebook, youtube, yang sudah jelas itu lahir dari peradaban Barat, Amerika.

Namun, sebagaimana saran-kritis dari Hassan Hanafi, santri-santri Pesantren Bina Insan Mulia dilarang untuk membela agama dan negara secara membabi buta; mengkritik Barat tanpa metodologi dan logika argumentatif. Al-Istighrab (oksidentalisme) secara akar bahasanya saja adalah mempelajari Barat; menjadikan Barat sebagai objek riset dan observasi. Belajar ke Barat tidak untuk mengamaninya, tetapi sebakal bekal awal saja untuk mendialogkannya dengan warisan leluhur sendiri.

Halaman
12
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas