Tribunners

Tribunners / Citizen Journalism

Gusdurian, Ayo Move On ! dari Fanatisme Genetik ke Fanatisme Ideologis

Kecintaan sebagai pribadi tidak bisa kita perdebatan lagi, karena komunitas Nahdliyyin sejati mempercayai beliau sebagai seorang kiyai.

Editor: Husein Sanusi
Gusdurian, Ayo Move On ! dari Fanatisme Genetik ke Fanatisme Ideologis
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Hari ini kita tidak bisa menerima gagasan bahwa Gusdurian boleh tidak ber-PKB, sekalipun pengusungnya adalah keluarga Gus Dur sendiri. Karena mau tidak mau PKB adalah wujud kongkrit gagasan kebangsaan Gus Dur. Tetapi, sebaliknya, siapapun yang mendorong berafiliasi politik pada PKB, sekalipun bukan dari keluarga Gus Dur, ia tetaplah bagian dari Gusdurian. Dalam bahasa yang ekstrim, siapapun yang mencegah afiliasi politik pada PKB maka ia telah berkhianat kepada Gus Dur dan tak layak menyandang gelar sebagai penganut Gusdurianisme.

Hubungan Gus Dur dan PKB yang penting dipegang teguh oleh pengikut Gusdurianisme adalah "manhajul fikr assiyasi", nalar politik Gus Dur. Sebagai sebuah manhaj, maka PKB adalah metode memahami alam pikir politik Gus Dur. Jika mau membaca pemikiran politik kekuasaan Gus Dur maka PKB wujud konkritnya. Jika mau berpolitik ala Gus Dur maka ber-PKB jalannya.

Ada ketidakmungkinan "nderek" Gus Dur tanpa "nderek" PKB. Gus Dur mengajak masyarakat Indonesia dan warga Nahdliyyin khususnya untuk melek politik melalui ketokohan dirinya. Pada mulanya Gus Dur mengajak pemberontakan terhadap otoritarianisme rezim orde baru. Ketika dirinya sudah mencapai puncak kekuasaan, beliau tidak mempertahankannya mati-matian. Karena tujuan utama Gus Dur bukan kekuasaan, melainkan kesadaran berpolitik umat.

Tidak merasa puas hanya dengan dilengserkan dari kursi kepresidenan, Gus Dur melatih kader baru yaitu Muhaimin Iskandar untuk melengserkan dirinya sendiri dari kekuasaan di level yang lebih kecil dari negara, yaitu level partai politik. Dengan begitu, sempurnalah pelatihan politik Gus Dur kepada warga Nahdliyyin khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Bahwa tidak ada kekuasaan yang perlu dipertahankan mati-matian walaupun tetap harus diperjuangkan semaksimal mungkin.

Dalam konteks perjuangan kekuasaan dan ikhtiar maksimal inilah, Gus Dur mendirikan PKB sampai berhasil meraih kedudukan sebagai presiden. Ini yang harus dipegang teguh oleh komunitas Gusdurian. Sebab, tantangan berikutnya bagi Gusdurian dan PKB sebagai anak-anak yang lahir dari rahim NU adalah berkolaborasi dan memikirkan bagaimana NU semakin besar dan kuat. NU yang kembali mengantarkan kader terbaiknya ke puncak kekuasaan, RI 1.

Tentu sebagai warga Nahdliyyin sejati, kita semua tidak bisa melupakan ejekan-ejekan dari non-Nahdliyyin pada paroh pertama abad 20. Saat itu NU diejek sebagai "Gajah Kena beri-beri". "Gajah kena beri-beri" diartikan kala itu sebagai komunitas besar namun berpenyakitan. Komplotan besar yang tidak berkualitas. Jamaahnya besar namun tidak berkuasa. Karenanya, Gusdurian dan PKB di masa depan mendapatkan amanah dari NU untuk menjadikan ormas tercinta kita semua ini menjadi lebih besar, dengan kekuasaan politik yang tidak tertandingi. Hal itu tidak akan pernah tercapai apabila Gusdurian belum all-out untuk PKB.

Hari ini, kita menyaksikan bahwa Gusdurian belum all-out untuk PKB, sehingga berharap NU mencapai puncak kekuasaan masih jauh panggang dari api. Lihatlah, PKB belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan partai papan atas lain, PKB bertengger diurutan yang kesekian. Tampaknya, bukan saja Gusdurian yang belum all-out untuk PKB, tetapi NU juga belum. Kita tidak perlu heran bila menyaksikan dengan mata telanjang NU "merengek" mengemis kekuasaan paska Pilpres 2019 lalu.

Kembalinya Gusdurian ke dalam pelukan mesra bersama PKB ala Cak Imin adalah prasyarat mutlak bagi soliditas warga Nahdliyyin. Pilpres 2024 sudah sangat dekat. Kita sebagai warga Nahdliyyin ingin segera keluar dari label menjijikkan yang disematkan kepada NU sebagai "gajah beri-beri". Jamiyah yang besar tetapi lemah tak berdaya, karena tidak punya kekuasaan. Dan ketika kekuasaan itu berhasil diraih, seperti saat Gus Dur menjadi presiden, periodenya begitu singkat. Karena warga Nahdliyyin belum begitu terlatih bermain politik kekuasaan. Tetapi, dengan bergabungnya Gusdurian ke PKB, maka cendikiawan Gusdurian kelak tidak akan mudah ditipu lagi oleh pihak manapun. Wallahu a'lam bis shawab.

*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas