Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Menggali Dampak Psikologis dan Kesehatan Mental dari Puasa Ramadan

Menjalani puasa Ramadan memiliki potensi besar dalam mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Menggali Dampak Psikologis dan Kesehatan Mental dari Puasa Ramadan
National University of Singapore
Ilustrasi - Berbuka puasa. 

Dengan begitu, puasa tidak hanya berkaitan dengan kesehatan jasmani, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kesehatan mental dan spiritual.

Proses purifikasi fisik yang terjadi selama puasa juga memiliki dampak pada kesehatan psikologis seseorang.

Ketika tubuh membersihkan diri dari toksin dan bahan-bahan yang tidaksehat, hal ini dapat memberikan efek positif terhadap mood dan energi seseorang.

Banyak orang melaporkan perasaan lebih ceria, segar, dan bugar selama dan setelah berpuasa, yang
secara langsung juga dapat berdampak pada kesejahteraan mental mereka.

Penelitian telah menunjukkan bahwa puasa juga dapat merangsang produksi hormon-hormon tertentu dalam tubuh yang berperan dalam regulasi suasana hati.

Sebagai contoh, puasa dapat meningkatkan kadar hormon serotonin yang berperan dalam menstabilkan
suasana hati dan mengurangi rasa cemas.

Dengan demikian, puasa dapat berperan sebagai faktor yang mendukung keseimbangan kimia otak dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain hormon serotonin, puasa juga dapat berkontribusi pada peningkatan produksi hormon dopamin dalam tubuh.

Dopamin dikenal sebagai hormon kebahagiaan yang memainkan peran penting dalam mengatur rasa senang, motivasi, dan kesempatan belajar.

Dengan adanya peningkatan kadar dopamin selama periode puasa, seseorang mungkin merasa lebih
termotivasi, bersemangat, dan bahagia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain itu, puasa juga dapat mempengaruhi produksi hormon kortisol, yang merupakan hormon stres utama dalam tubuh.

Meskipun pada awalnya kadar kortisol mungkin meningkat sebagai respons terhadap stres sehubungan dengan perubahan pola makan.

Baca juga: Manfaat Puasa untuk Kesehatan: Bisa Turunkan Berat Badan hingga Tingkatkan Fungsi Otak

Namun pada jangka panjang puasa dapat membantu mengatur respons stres dan menjaga kadar kortisol
dalam kisaran yang sehat.

Hal ini berpotensi membantu individu dalam mengelola kecemasan dan stres secara lebih efektif, serta mencegah dampak negatif yang disebabkan oleh peningkatan kadar hormon stres.

Dengan adanya peningkatan produksi hormon-hormon yang berperan dalam regulasi suasana hati dan respons terhadap stres, puasa dapat menjadi salah satu metode alami yang membantu melindungi kesehatan mental seseorang.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas