Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Mengapa Terjadi Banyak PT Pailit dan Apa Solusinya?

Inggris jadi yang pertama sekali merancang UU kepailitan yang lebih manusiawi

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Mengapa Terjadi Banyak PT Pailit dan Apa Solusinya?
djkn.kemenkeu.go.id
ILUSTRASI PAILIT - PAILIT yang dalam bahasa inggris disebut bankrupt, asal kata bacaropti dari Italia, atau kursi kursi dihancurkan, adalah sesuatu yang menyakitkan 

Contoh, kita membeli unit apartemen dari Meikarta. Sudah lunas. Janji segera penyerahan unit.

Ternyata tak lebih dari janji Bang Thoib yang akan pulang lebaran ke 3 .

Ternyata Bang Thoib tak pulang. In casu dalam Meikarta, sudah sekian tahun unit dibayar lunas, unitnya belum juga dikasih.

Akhirnya konsumen rugi. Maksud hati untuk investasi, ternyata janji Meikarta basi

Jadi ketentuan PT dan ketentuan UU Pailit harus direformasi agar terhindar kerugian kolektif masyarakat.

Khusus kepailitan, nasib kreditor konkuren harus dilindungi, dan nasib karyawan juga.

Kreditor separatis juga jangan tamak.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika eksekusi agunan tidak cukup melunasi utang debitor, bank tidak boleh gabung ke grup kreditor konkuren untuk ikut lagi berbagi.

Kasihan. Ibarat makan, bank sudah makan 2 piring berikut lauk yang enak yaitu interest of the loan, janganlah lagi merebut jatah sikecil, si kreditor konkuren yang tak memiliki agunan.

Suplai dari kreditor konkuren ke PT yang kemudian dimohohon pailit dengan gagah oleh lawyer, bisa saja hasil utang ke mertua atau kawan lama.

Kasihan mereka jika tak dilindungi . Sampai detik ini, belum ada jaminan kuat bagi kreditor cilik.


Sekian dulu.

Selamat menyambut Idul Fitri . Jika mudik, istirahatlah dengan cukup agar tiba dengan selamat 

Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas