Ulah Penumpang Indonesia Bikin Berang Orang Jepang
Ulah ribut WNI di Jepang bikin malu. Kolumnis Xavier Quentin bagikan etika tak tertulis saat naik kereta di Jepang agar tak mencoreng nama bangsa.
Editor:
Suut Amdani
Saya perhatikan tidak seorang pun penumpang yang mengobrol satu sama lain.
Mereka lebih suka membaca buku atau—ini yang sering terjadi—tidur.
Maklum jam kerja di Jepang yang panjang membuat mereka memakai setiap waktu untuk beristirahat.
Kedua, memberikan ruang dan privacy terhadap penumpang lain, apalagi kepada wanita hamil, orang tua dan orang berkebutuhan khusus.
Mereka sangat hormat dan helpful.
Ketika mencari jalur kereta, saya bertanya kepada orang ibu tua—tampaknya pemilik stand makanan—arah yang hendak saya tuju.
Alih-alih memberikan petunjuk, ibu itu malah bicara sejenak kepada seorang karyawannya—saya duga memberitahu kalau dia ada urusan—kemudian mengantar saya sampai di samping rel.
Tangannya menunjukkan datangnya kereta dan ke arah mana kereta yang hendak saya naiki.
Setelah memastikan saya paham ucapannya, dia membungkuk sopan sebelum meninggalkan saya. Sangat mengesankan.
Ketiga, jangan makan dan minum di atas kendaraan umum.
Kalau terpaksa harus melakukannya, lakukan setenang dan serapi mungkin.
Seorang sahabat saya pernah cerita. Saat naik taksi, di dalam taksi ibu itu sibuk menatang barang belanjaan yang baru dibelinya.
Tiba-tiba sopir itu menoleh dan memberi tanda agar ibu itu duduk dengan tenang. Bisa jadi suara ‘kresek-kresek’ yang ditimbulkan mengganggu konsentrasinya.
Dari ulah penumpang yang tampaknya supporter bola di Jepang, apa yang bisa kita petik.
Saya teringat pepatah kuno Indonesia. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Artinya kita harus menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat, norma, dan aturan yang berlaku di tempat yang ia tinggali atau kunjungi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan