Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Merdeka dengan Kaki Terbelenggu

Kebebasan bicara seakan dibungkam dengan menghilangnya para aktivis yang vokal menyuarakan ketidakadilan yang terjadi sekitarnya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Suut Amdani
zoom-in Merdeka dengan Kaki Terbelenggu
Dok. Xavier Quentin Pranata
XAVIER QUENTIN - Xavier Quentin Pranata adalah kolumnis dan penulis buku. (Dok pribadi untuk Tribunnews.com) 

Karena berkali-kali gagal dan malah menyebabkan moncongnya cedera dan sakit luar biasa, barakuda itu tidak lagi berani mengejar ikan salmon yang berkeliaran, bahkan saat pembatas kaca itu dilepaskan.

Demikian jugalah yang dirasakan sebagian penduduk Indonesia.

Kita telah hidup di zaman merdeka, bahkan sudah 80 tahun, namun, trauma penjajah masih saja menjajah otak kita.

Kebebasan bicara seakan dibungkam dengan menghilangnya para aktivis yang vokal menyuarakan ketidakadilan yang terjadi sekitarnya.

Kasus Munir yang meninggal dalam penerbangan ke Belanda pun membuat banyak orang kuatir.

Apa belanggu yang mengikat kaki kita? Di bidang ekonomi, suara wong cilik nyaris tak terdengar.

Mereka yang berani menyuarakan haknya bisa jadi malah kehilangan pekerjaan yang sudah didambakannya sekian lama.

Rekomendasi Untuk Anda

Menariknya, mereka jadi semakin kreatif menggemakan ketidakadilan lewat parodi, sindiran sampai cerita antah berantah.

Di bidang politik, mereka yang berani menentang penguasa—di tataran mana pun—takut dikriminalisasi dengan alasan yang dicari-cari.

Siapa sih yang tidak punya kesalahan secuil pun selama hidupnya.

Kesalah itulah yang bisa menjadikannya orang yang tersandera.

Saling sandera menjadi ungkapan sinis yang sering kita dengar di café mewah di hotel berbintang maupun warung kopi pinggir  jalan.

Bukankah “Murka raja adalah seperti pesan kematian, tetapi orang bijaksana akan dapat menenangkannya.”

Ungkapan ‘silent is golden’ dipakai untuk menyembunyikan rasa takutnya.

Ada yang justru memakai ayat atau ucapan bijak seorang raja: “Orang bijak melihat malapetaka lalu menyembunyikan diri, tetapi orang yang tidak berpengalaman berjalan terus dan mendapat celaka.”

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas