Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Merdeka dengan Kaki Terbelenggu

Kebebasan bicara seakan dibungkam dengan menghilangnya para aktivis yang vokal menyuarakan ketidakadilan yang terjadi sekitarnya.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Suut Amdani
zoom-in Merdeka dengan Kaki Terbelenggu
Dok. Xavier Quentin Pranata
XAVIER QUENTIN - Xavier Quentin Pranata adalah kolumnis dan penulis buku. (Dok pribadi untuk Tribunnews.com) 

Amnesti dan abolisi tidak gampang diterima setiap orang kan?

Rasa takut untuk menyuarakan keadilan karena kita tidak tahu siapa teman siapa lawan.

Raja Salomo mengingatkan “Dalam pikiran pun janganlah engkau mengutuki raja, dan dalam kamar tidur janganlah engkau mengutuki orang kaya, karena burung di udara mungkin akan menyampaikan ucapanmu, dan segala yang bersayap dapat menyampaikan apa yang kauucapkan.”

Di bidang sosial, apalagi. Namanya saja media sosial. Apa yang kita tulis dan ucapkan dia medsos punya jejak digital.

Jika orang yang kita singgung tersinggung, undang-undang ITE bisa menjerat kita. 

Lalu, apa kita tetap diam saja di tengah ketidakadilan di berbagai bidang kehidupan?

Tentu saja tidak. Saya kagum dengan kedalaman pepatah Indonesia, khususnya Jawa.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertama, ngono yo ngono ning ojo ngono. Begitu ya begitu namun jangan begitu.

Membingungkan? Tidak. Artinya kita boleh saja bersuara, berekspresi, berdemonstrasi namun jangan sampai di luar biatas, apalagi sampai melakukan tindakan anarkis. 

Kedua, mikul dhuwur mendhem jero. Artinya menjunjung tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam.

Jadi dalam menyampaikan aspirasi, kita tetap menjaga adab dan susila, serta menyimpan dalam hati dan tidak membongkar aib orang lain secara sembrono.

Ketiga, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita perlu menghormati adat istiadat, budaya dan kebiasaan masyarakat di mana kita tinggal.

Saya punya  pengalaman menarik. Saat masih tinggal di negara empat musim, saya orang Asia minoritas di tengah masyarakat kulit putih.

Suatu kali datang orang dari Indonesia ke rumah saya. Kami ngobrol sampai malam. Suara kami terdengar tetangga. Dengan sopan dia menegur kami.

Keesokan harinya, saya samperin rumahnya dan meminta maaf dengan tulus. Dengan tangan lebar dia menerima permintaan maaf saya. 

Untuk memperingati HUT Indonesia ke-80 ini, marilah kita bijak berkomunikasi agar tidak berantem dengan dulu dhewe.

Camkan ucapan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Halaman 3/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas