Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Surat Terbuka kepada Presiden Prabowo

Immanuel memainkan perannya dengan apik: ia adalah seorang "relawan" yang loyal, orator yang vokal, dan figur seolah-olah berani melawan arus.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Surat Terbuka kepada Presiden Prabowo
istimewa
Hasrullah, Dosen komunikasi FISIP UNHAS. 

Oleh: Hasrullah
Dosen komunikasi Fisip UNHAS

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ini bukan sekadar kasus korupsi, melainkan sebuah pertunjukan dramaturgi kekuasaan yang telanjang, yang memperlihatkan bagaimana sebuah karakter yang selama ini tampil di panggung politik sebagai sosok penuh semangat dan loyalitas tiba-tiba tersingkir dari sorotan karena sandiwara di belakang panggungnya terungkap. 

Dengan lantang saya katakan, "Saya terlalu kaget jabatan ini diberikan kepada Immanuel. Saya melihat aura dan karakternya terlalu penjilat dan tidak pantas diberikan jabatan yang strategis.", pada akhirnya, bukan sekadar emosi, tetapi sebuah refleksi dari fakta yang selama ini terbentang di depan mata publik. 

Bahwa seorang yang begitu ambisius dan dikenal karena manuver politiknya, alih-alih karena kompetensi manajerial, justru ditempatkan di posisi krusial yang mengatur hajat hidup jutaan pekerja. 

Dalam teori dramaturgi Erving Goffman, setiap manusia adalah aktor yang memainkan peran di panggung depan (front stage) kehidupan sosial. 

Immanuel Ebenezer memainkan perannya dengan apik: ia adalah seorang "relawan" yang loyal, orator yang vokal, dan figur yang seolah-olah berani melawan arus. 

Ia begitu getol menyuarakan janji-janji politik, melakukan sidak mendadak yang direkam, dan sesekali membuat pernyataan kontroversial yang menarik perhatian media.

Rekomendasi Untuk Anda

Semua itu adalah bagian dari pertunjukan panggung depannya, yang bertujuan untuk membangun citra diri sebagai pribadi yang berintegritas dan patut diberi kepercayaan. 

Dalam ilmu komunikasi politik, pencitraan atau image management adalah hal yang lazim dilakukan oleh setiap pemerintahan. 

Tujuannya adalah untuk membangun persepsi positif di mata publik, yang pada akhirnya akan meningkatkan legitimasi dan dukungan. 

Teori ini melihat interaksi sosial, termasuk di dunia politik, sebagai sebuah pertunjukan teater. 

"Panggung depan" (front stage) adalah tempat di mana para aktor (dalam hal ini, para menteri atau pejabat) menampilkan peran yang diharapkan publik. 

Di sinilah mereka menunjukkan citra yang ideal, seperti bekerja keras, peduli rakyat, dan berprestasi. 

Sebaliknya, "panggung belakang" (back stage) adalah ruang di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, di luar pengawasan publik, dan di sinilah realitas kerja yang mungkin tidak seindah yang terlihat ditampilkan. 

Jika ada kesenjangan antara "panggung depan" dan "panggung belakang," maka yang terjadi adalah pencitraan semu. 

Halaman 1/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas