Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

APBN Surplus 2028 vs Utang Rp 700 Triliun: Antara Visi dan Realita

Perdebatan defisit vs surplus: Visi APBN surplus 2028 Prabowo diuji kapasitas pajak, belanja, dan strategi utang.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in APBN Surplus 2028 vs Utang Rp 700 Triliun: Antara Visi dan Realita
ISTIMEWA
Syahrir Ika (Peneliti Ahli Utama BRIN) 

Belajar dari Argentina: Jalan Cepat tapi Mahal

Contoh terbaru datang dari Argentina. Presiden Javier Milei sejak 2023 menerapkan austeritas ekstrem: memangkas belanja publik 30?lam setahun, menghapus subsidi energi, hingga memotong belanja pensiun. Hasilnya, pada 2024 Argentina mencatat surplus fiskal 1,8% PDB untuk pertama kali dalam satu dekade, disertai penurunan inflasi tajam.

Namun, harga sosialnya mahal: daya beli merosot, jaring pengaman sosial hilang, dan protes massal merebak. Argentina berhasil menyehatkan fiskal dengan “terapi kejut,” tetapi kesejahteraan rakyat terguncang.

Pelajaran bagi Indonesia jelas: disiplin fiskal penting, tetapi harus ditempuh secara bertahap dan berkeadilan sosial.

Visi Prabowo: APBN Surplus 2028

Presiden Prabowo menargetkan APBN surplus pada 2028. Padahal, pada 2025 pemerintah masih berencana menarik utang baru sekitar Rp700 triliun untuk menutup defisit. Sekilas, target ini tampak kontradiktif.

Per akhir 2024, utang Indonesia mencapai Rp8.300 triliun atau 39% PDB—masih relatif aman dibanding banyak negara. Masalahnya terletak pada struktur fiskal: meski Indonesia memiliki aset publik lebih dari Rp14.000 triliun (BUMN, dana pensiun, asuransi, DPK perbankan), likuiditas kas negara tetap tipis. Sovereign Wealth Fund (SWF) kita—Danantara—baru berdiri dan kapasitas likuidnya belum kuat.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertanyaannya: mungkinkah defisit yang lebar berubah menjadi surplus dalam 3–4 tahun?

Tiga Tantangan Utama

1. Kapasitas Penerimaan Negara

Tax ratio Indonesia hanya 10–11% PDB, jauh di bawah rata-rata G20 (20–25%). Tanpa reformasi pajak, target surplus hampir mustahil.

2. Kualitas Belanja Negara

Belanja masih didominasi gaji, subsidi, dan birokrasi. Belanja produktif—pendidikan, riset, digitalisasi—masih minim. Reprioritisasi mutlak diperlukan. Riset dan inovasi adalah kunci kemajuan berkelanjutan.

3. Strategi Pengelolaan Utang

Penarikan utang Rp700 triliun per tahun tidak masalah bila dialokasikan untuk investasi produktif. Tetapi bila hanya menutup defisit rutin, akan menjadi beban generasi berikut.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas