Mengatasi 'Jalur Gaza' di Metropolitan
Prabowo di PBB serukan perdamaian abadi Palestina–Israel, menolak kebencian dan prasangka, akhiri konflik 77 tahun di Gaza.
Editor:
Glery Lazuardi
Di Bogor, kota hujan, kawasan Jalur Gaza berada di lokasi tawuran antara kampung di Kecamatan Kemang dan Rancabungur. Tawuran pecah, bila ada pemantik. Misalnya, saling geber knalpot sepeda motor, kemudian janjian adu gengsi dan kekuatan melalui tawuran. Aceng (bukan nama sebenarnya) salah satu warga setempat mengaku, tawuran antar kampung itu sudah mendarah daging dan hampir terjadi setiap pekan (Radar Bogor,20/8/2024)
Kawasan Jalur Gaza yang menjadi lokasi tawuran puluhan tahun juga ada di Kota Cirebon. Tepatnya adalah lokasi tawuran antar Kampung Kesunean Utara dan Cangkol, di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk. Penyebab tawuran biasanya berawal dari saling ejek antar pemuda. Kemudian juga, terdapat jembatan sungai sebagai batas kampung yang selama ini dikuasai oleh pemuda Cangkol sebagai tempat nongkrong. Di tempat inilah kerap menjadi permasalahan dan sumber percekcokan ketika para pemuda dua kampung tersebut saling bertemu (Cirebon, ANTARA News, 4 Juni 2010)
Kawasan Jalur Gaza juga ada di Ibu Kota Negara, Jakarta. Tawuran antara warga Jalan Tambak, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, dan warga Gang Tuyul, Manggarai, Jakarta Selatan, sering kali terjadi, dan telah berlangsung turun temurun. Kawasan Jalur Gaza lainnya, adalah Johar Baru. Tawuran di Johar Baru seakan menjadi tradisi dan sudah turun menurun dari generasi ke generasi.
Mengapa Tawuran Ber- Regenerasi di Jalur Gaza ?
Tawuran merupakan manifestasi situasi yang diawali dengan kompetisi atau persaingan dengan tujuan berbeda, dan kemudian persaingan semakin intens. Selanjutnya berkembang menjadi kekerasan verbal (kata-kata) dan kemudian kekerasan fisik. Mungkin pada awalya kekerasan yang terjadi dilakukan oleh individu atau kelompok kecil, namun kekerasan akan semakin melebar dan terbuka, seiring dampak terasakan dari tawuran tersebut.
Bila tawuran telah menyebabkan terjadinya luka fisik, kecacatan, dan bahkan korban jiwa (meninggal dunia), kemudian juga kerusakan atau kehilangan harta (pembakaran, penjarahan), maka spiral kekerasan akan semakin terasakan lebih mendalam dan lebih luas. Bagi korban langsung (keluarga, sahabat, tetangga atau sekampung), spiral kekerasan ini, akan mendorong dan memperkuat solidaritas "tribalisme". Solidaritas yang membabi buta, fanatisme, dan menimbulkan sikap "kita melawan mereka".
Pada situasi tersebut, tawuran dapat terjadi dengan hal-hal sepele atau masalah kecil seperti tersenggol motor, saling mengejek, gangguan pada pacar atau anggota keluarga/kelompok, ada suara mercon, dan lain-lainnya.
Bila tawuran terjadi berkali-kali, dengan lawan yang sama, dan kedua belah pihak mengalami korban baik jiwa dan harta, maka solidaritas "tribalisme" semakin menebal dan memunculkan "dendam kusumat", yang tersosialisasi di lingkungan masing-masing kelompok/kampung yang tawuran. Peristiwa tawuran akhirnya menjadi wadah "belajar" bersama secara informal anggota keluarga, anggota kelompok atau warga sebuah kampung dalam meregenerasi kekerasan (tawuran). Inilah sebabnya, disebuah tempat atau wilayah peristiwa tawuran dapat berlangsung puluhan tahun dari generasi ke generasi.
Akar Masalah Tawuran di Jalur Gaza
Bila kita mendalami karakteristik peristiwa tawuran yang terjadi, kita melihat bahwa mereka yang tawuran berasal dari kelompok warga paling bawah (lower class). Mereka tinggal di kawasan padat penduduk dan bisa saja memiliki masalah sosial lainnya seperti terjadinya peredaran narkoba, kemiskinan, pengangguran dan lainnya. Kondisi lingkungan yang kurang layak atau buruk akan menumbuhkan pola pikir pesimistis, egois (menang sendiri), emosi negatif (stress) dan mentalitas instan, yang mendorong mudahnya terjadi kekerasan.
Di kehidupan perkotaan, wilayah yang sering tawuran, tersebar kelompok yang memiliki solidaritas tinggi. Mereka biasa disebut geng. Dalam konteks persaingan dan kompetisi hidup, geng muncul sebagai strategi survival (bertahan hidup) karena dapat memberikan rasa memiliki dan identitas, perlindungan dari ancaman, serta keuntungan finansial atau kekuasaan yang tidak didapatkan di tempat lain seperti keluarga atau sekolah.
Persaingan antar geng di sebuah wilayah dapat menjadi pemicu terjadinya tawuran antar kelompok geng yang kemudian melebar ke tawuran antar warga atau kampung (lokasi geng berada). Seringkali warga yang tidak tahu menahu, atau warga yang sebenarnya tidak mau tawuran terjadi, tidak berdaya dengan keberadaan geng pemicu tawuran ini.
Di tengah berbagai permasalahan penyebab tawuran di atas, ada pihak yang sering ingin mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi. Mereka adalah para pengedar narkoba (bandar), yang merasa aman dan lancar mengedarkan dan transaksi narkoba di saat kekacauan terjadi. Pada saat yang bersamaan, banyak pelaku tawuran mengonsumsi narkoba sehingga mereka nekat dan berani membawa senjata. Pada saat tertentu, bisa saja tawuran sengaja dibuat untuk tujuan keuntungan bisnis narkoba.
Di era kini, generasi kekerasan menjadikan tawuran sebagai ajang memperlihatkan siapa diantara mereka jagoan, siapa pemenang dan siapa kuat. Ada kepuasan Didukung dengan teknologi komunikasi, tawuran dapat direncanakan dengan perjanjian lokasi dan waktu tawuran. Para pihak kelompok yang tawuran memiliki admin dan sistem komunikasi dan hierarki yang tersusun secara informal, namun sangat efektif.
Solusi
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan