Keselamatan Kerja Tambang Underground: Antara Benchmark Global & Risiko
Freeport menjadikan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahap kegiatan penambangan
Editor:
Sanusi
Oleh: Ferdy Hasiman, Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch
TRIBUNNERS - Perusahaan tembaga dan emas terbesar Indonesia yang menambang di Grasberg, Papua sudah menghentikan operasi tambang hampir sebulan menyusul kecelakaan besar akibat luncuran material basah berisi batuan dan lumpur dalam volume besar yang terjadi di Grasberg Bloc Cave, salah satu tambang bawah tanah Freeport.
Freeport harus menghentikan semua aktivitas penambangan dan menghentikan pengiriman konsentrat tembaga ke pembeli (buyer) terhitung sejak awal bulan September, 2025 silam.
Penghentian itu terjadi karena perusahaan hanya fokus mencari 7 orang pekerja yang terjebak di dalam Grasberg Block Cave. Dari 7 orang itu, 2 di antaranya sudah ditemukan meninggal dan 5 lainnya dalam proses pencarian.
Baca juga: Tim Tanggap Darurat Freeport Indonesia Berhasil Temukan Sebagian Pekerja, Upaya Pencarian Berlanjut
Kabar terbaru dari manajemen Freeport pada tanggal 6 Oktober, 2025, 5 orang yang belum diketahui sudah ditemukan meninggal. Publik di tanah air tentu berbelasungkawa atas 7 pekerja yang meninggal di tambang bawah tanah dan berharap musibah seperti ini tak terulang lagi ke depan.
Era Underground
Era open-pit (tambang terbuka) Grasberg sudah berakhir tahun 2020. Freeport melakukan penambangan di Grasberg open-pit sejak awal tahun 1990, hingga akhir 2019 dengan rata-rata produksi harian mencapai lebih dari 200.000 matrik ton bijih. Sejak tahun 2020 secara definitif, Freeport sudah memasuki era underground atau tambang bawah tanah.
Baca juga: Rosan: Freeport Lepas Saham ke Indonesia 12 Persen, Bangun Sekolah dan RS di Papua
Berdasarkan catatan kami, cadangan tambang bawah tanah mencapai 3 miliar ton ore (bijih). Bijih itu mengandung tembaga, emas, dan perak. Panjang tambang bawah tanah mencapai 700 KM dan menurut proyeksi sampai penambangan tahun 2041 (masa akhir kontrak Freeport) bisa sepanjang 1000 KM. Tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, Big Gossan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave. Total produksi harian di tambang underground juga mencapai 200.000 matrik ton bijih per hari.
Tahun 2023 silam, saya berkesempatan mengunjungi tambang bawah tanah Freeport. Untuk mencapai ke sana, kita harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup panjang. Sepanjangan terowongan, kita melihat lampu cukup terang. Terlihat beberapa generator yang cukup besar untuk mendukung kelistrikan di dalam terowongan. Alat berat juga terlihat siap di dalam tambang bawah tanah. Itu yang membuat tambang bawah tanah Freeport menjadi tambang terbesar dan tercanggih di dunia.
Dengan kompleksitas operasi di Grasberg Block Cave (GBC), Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, Freeport menjadikan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahap kegiatan penambangan.
Freeport telah lama menjadi benchmark global dalam praktik keselamatan tambang bawah tanah. Freeport sudah lama menjadi anggota International Council on Mining and Metals (ICMM), dan juga Copper Mark, sebuah kerangka kerja penilaian yang memvalidasi praktik-praktik pertambangan tembaga yang bertanggung jawab dan penerapan standar global Keselamatan & Kesehatan Kerja di seluruh dunia.
Hal ini terlihat dari penerapan teknologi mutakhir, mulai dari sistem monitoring real-time geoteknik, seismik, ventilasi, peralatan otomatisasi seperti loader dengan kendali jarak jauh (remote loader) dan autonomous train atau kereta tanpa awak, serta keberadaan refuge chamber untuk tempat perlindungan darurat.
Namun, seketat apapun sistem keselamatan, tambang bawah tanah memiliki karakteristik yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Risiko geoteknik, fenomena wet muck atau lumpur basah, hingga faktor alam seperti gempa bumi dan curah hujan ekstrem, adalah potensi ancaman yang tidak selalu bisa diprediksi.
Musibah yang menimpa blok tambang terbesar, Grasberg Block Cave pada awal September 2025 menjadi bukti nyata bahwa bahkan dengan infrastruktur keselamatan berstandar internasional, insiden tak terduga tetap dapat terjadi. Luncuran material basah dengan volume sangat besar menimbulkan tragedi yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana tujuh pekerja terjebak di area tambang bawah tanah.
Dua orang pekerja ditemukan pada 20 September 2025, dan lima pekerja ditemukan pada 5 Oktober 2025, semuanya dalam keadaan meninggal. Kita tentu berbelangsungkawa atas meninggalnya pekerja tambang bawah tanah Freeport ini.
Lantas apa tugas pekerja di tambang bawah tanah jika semua dikontrol dari pusat kontrol yang jauh?
Jawabannya meskipun teknologi sudah canggih, namun, pekerja fisik masih dibutuhkan. Di tambang bawah tanah, pekerja bukan bertugas menggali bijih dari batuan besar.
Namun, pekerjaanya lebih beragam, seperti pemeliharaan dan pengawasan kondisi area kerja, dan juga pekerjaan teknis pendukung lainnya untuk memastikan operasional berjalan lancar dan aman.
Ada juga tim keselamatan untuk memantau aktivitas tambang sesuai standar lingkungan atau tidak dan menganalisis area aman untuk melanjutkan pekerjaan. Meskipun sistem keselamatan telah sesuai dengan standar internasional, ternyata alam tetap mampu membobol kekuatan teknologi secanggih apapun.
Kasus ini memperlihatkan batas kemampuan teknologi prediktif. Sistem real-time monitoring, remote control room, hingga block caving automation mampu menekan risiko, namun tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan terjadinya bencana. Pengalaman PTFI ini juga selaras dengan berbagai insiden global di industri pertambangan, di mana standar ketat dan teknologi modern pun tetap memiliki celah terhadap peristiwa luar dugaan.
Investigasi
Setelah seluruh pekerja ditemukan, Freeport perlu melakukan investigasi menyeluruh atas kasus ini dan benar-benar menemukan fakta mengapa luncuran material basah ini muncul dalam volume sangat besar.
Penemuan fakta ini penting sebagai langkah agar bisa menemukan inovasi dan sistem teknologi seperti apa yang bisa benar-benar meminimalisir risiko bagi pekerja tambang bawah tanah ke depan. Manajemen tak bisa melakukan terobosan-terobosan baru jika belum menemukan penyebab sesungguhnya dari musibah ini.
Jika memang semua pekerjaan ditambang underground dikontrol dari jauh dengan menggunakan teknologi, apakah bisa semua pekerjaan yang sekarang dilakukan manusia atau para pekerja diambil-alih teknologi ke depan?
Ini penting mengingat risiko tambang bawah tanah di Grasberg cukup besar. Dengan curah hujan tinggi dan batuan besar dalam tanah, risiko luncuran material dalam volume besar seperti ini bisa saja terjadi ke depan. Freeport masih menyisihkan kontrak sampai tahun 2041 dan kemungkinan besar diperpanjang.
Maka, teknologi pengambil-alihan pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja tambang yang saat ini dilakukan mungkin bisa membantu. Mungkin saja untuk mengambil-alih semua pekerjaan manusia berisiko hilangnya pekerjaan, namun, pekerja-pekerja itu bisa dialihkan ke tempat lain agar tak terjadi pristiwa kemanusian berikutnya.
Tragedi ini sekaligus menegaskan bahwa setiap insiden harus menjadi pembelajaran bagi Freeport dan perusahaan tambang lainnya. nvestigasi menyeluruh terhadap penyebab luncuran material basah menjadi langkah penting, tidak hanya untuk memperbaiki sistem internal, tetapi juga untuk memberi kontribusi terhadap pengembangan standar keselamatan tambang global.
Sebagaimana pengalaman industri pertambangan dunia menunjukkan, setiap musibah sering kali menjadi lahirnya standar baru atau protokol kerja baru, adopsi teknologi yang lebih adaptif, dan peningkatan mitigasi risiko berbasis data. Freeport dengan reputasinya sebagai operator tambang kelas dunia, berpotensi menjadi pionir dalam merumuskan pendekatan keselamatan baru pasca-insiden ini.
Musibah di Grasberg Block Cave mengingatkan kita bahwa tidak ada sistem keselamatan yang benar-benar tanpa celah. Justru di titik inilah peran Freeport dan stakeholder lain menjadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk memperkuat standar keselamatan global, mengintegrasikan teknologi baru, dan memastikan bahwa setiap pekerja dapat pulang dengan selamat setiap hari.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.