Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

Merdeka Bung!

Dari semangat “Merdeka Bung!” hingga HUT ke-80, TNI terus bertransformasi sebagai tentara rakyat yang setia mengabdi untuk bangsa.

Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Merdeka Bung!
Dok Pribadi
Andi Muhammad Jufri, Tenaga Ahli Wamen KPPPA /Tim Pemberdayaan Kegiatan Sinergisitas Antar KL- BNPT Tahun 2017-2024. 

Pemerintah RI  kembali mengkonsolidasikan "Benteng NKRI" dengan mengeluarkan maklumat pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) (5 Oktober 1945).  Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo menjadi Kepala Staf Umum. Peristiwa Pembentukan TKR, kini diperingati sebagai Hari Ulang Tahun TNI

Kedatangan sekutu (Inggris dan Belanda) telah membuat gelora perjuangan rakyat bersama TKR meletus di berbagai tempat. Ada pertempuran dengan sekutu di Medan, yang dikenal "pertempuran Medan Area"  (13 Oktober 1945). Kemudian, ada pertempuran rakyat Surabaya  melawan Sekutu yang menewaskan Brigjen A.W.S. Mallaby (28 Oktober 1945). Kemudian dilanjutkan dengan pertempuran berdarah pada 10 November 1945. Semangat pekikan "Allahu Akbar"  dan "Merdeka atau Mati!" yang dicetuskan oleh Bung Tomo menggema di pertempuran Surabaya ini, yang kini dikenal sebagai "Hari Pahlawan". 

Di Semarang, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Kol. Sudirman melakukan pengejaran dan pengepungan selama 4 hari  terhadap pasukan sekutu yang meneror rakyat.  Pertempuran ini dikenal dengan "Palagan Ambarawa" (12-15 Desember 1945). Pertempuran diakhiri dengan kemenangan TKR pada 15 Desember 1945 (yang kini dijadikan Hari Juang Kartika TNI-AD).  Kemenangan ini, mendorong Presiden Soekarno melantik Soedirman  sebagai Jenderal dan diangkat menjadi panglima besar TKR (18 Desember 1945).  

Sementara, di Bandung, para pejuang menyerbu pos-pos Sekutu dan membumihanguskan kota Bandung dengan api sebelum meninggalkan dan mengosongkan Bandung. Peristiwa ini dikenal "Bandung Lautan Api" (23-24 Maret 1946). 

Kemudian, di Bali, pasukan TKR divisi Sunda Kecil di bawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai bertempur dengan  pasukan Belanda sampai titik darah penghabisan. Peristiwa dikenal sebagai "Pertempuran Puputan Margarana" (20 November 1946).  Kemudian juga, di Tangsi Sorido,  Biak, Papua, Kamp Nica diserang oleh rakyat Biak, yang dikenal dengan nama " Peristiwa Merah Putih di Biak" (14 Maret 1948). 

Seluruh pelosok negeri terus berontak melawan agresi Belanda dan sekutunya. Ketika Yogyakarta dan beberapa wilayah jatuh dikuasai Belanda dan sekutunya,  Jenderal Soedirman, dalam keadaan sakit dan ditandu,  melancarkan perang gerilya. Selama tujuh bulan, bergerak, berperang sembunyi dan menyerang tiba-tiba. Dengan tujuan agar  Belanda terkuras energinya,  senjata dan tidak fokus. Sekaligus,  menjaga bara semangat pejuang negeri.  Melalui perencanaan matang, 1 Maret 1949, para pejuang dan rakyat melancarkan serangan umum di Yogyakarta, dan berhasil membongkar kepalsuan  propaganda Belanda yang menyatakan bahwa Indonesia telah dikuasai. Dunia luar, mengetahui Indonesia ada dan dorongan eksistensi semakin menguat. Belanda tersingkir secara diplomasi. Pengakuan kedaulatan negeri kita dapatkan. 

Berbagai peristiwa di atas, menunjukkan bagaimana rakyat bersatu, bersenjata bambu runcing dan apa yang ada, kemudian berbaris melawan musuh bersama, melahirkan tentara, dan selanjutnya bergotong royong memenangkan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini sejalan dengan pesan Presiden Prabowo pada HUT TNI ke 80 (5 Oktober 2025)  bahwa "Tentara Nasional Indonesia lahir dari rakyat Indonesia. TNI adalah anak kandung rakyat Indonesia. TNI berasal dari rakyat. TNI timbul dan tenggelam bersama rakyat Indonesia. TNI selalu mengabdi kepada bangsa dan rakyat. Dan TNI siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa dan rakyat Indonesia"

Kita tidak menutup mata, bila sepanjang 80 tahun ini, TNI juga ada "bias" tergoda "kuasa", baik secara individu maupun kelembagaan.  Protes rakyat, merupakan tanda cinta sejati kepada TNI yang dicintainya.  Rakyat ingin TNI profesional dan terus bersama rakyat.

Kita bangga, melihat TNI bergotong royong bersama rakyat bersihkan lingkungan, menanam pohon, melestarikan lingkungan, dan lain-lain. Kita juga hormat, TNI di Daerah Terpencil menjadi guru untuk mengejar kesenjangan pendidikan.  Kita salut dengan aksi heroik prajurit Serda Olop Yeslon Sitanggang yang berhasil menggagalkan tawuran anak sekolah dan geng motor di Medan. Kita apresiasi prajurit Satgas Yonif 400/Banteng Raiders yang bertugas di Pos Mbua, Mduga, Papua,  yang datang ke petani, membeli langsung, menawar dengan senyum, dan membayar dengan harga adil :  ubi, singkong, sayuran, dan hasil bumi lainnya,  yang selama ini sulit dipasarkan. 

Merdeka Bung ! Pada konteks hari ini, kita berharap kehangatan prajurit TNI dan Rakyat terus terbangun. Kita tidak ingin, "loreng" dengan moncong senjata mengarah ke rakyat. Kita tidak ingin "loreng" dengan dentuman meriam menakuti rakyat. Kita tidak ingin, "loreng" dengan pukulannya merampas tanah rakyat. Kita tidak ingin, "loreng" rebutan lahan, konflik dan bentrok dengan rakyat.  Kita tidak ingin, "loreng" meresahkan rakyat. 

Merdeka Bung ! Suara semangat itu,kita harapkan menggema di telinga dan pelosok negeri saat ini. Kita butuh "strategi gerilya" untuk merangkul rakyat, menghangatkan hati rakyat, membangkitkan semangat rakyat, menggembirakan rakyat, mendamaikan hati rakyat, dan bergerak bersama rakyat untuk menghadapi ancaman yang kompleks, multidimensi, dan  bersifat hybrid.

Merdeka Bung ! Salam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kita perlu restorasi kembali. 

Musuh bersama kita saat ini, adalah kesenjangan sosial, narkoba, kemiskinan, kebodohan, korupsi, oligarki, kekerasan, konflik dan ekstremisme. Restorasi "Merdeka Bung !" adalah tumbuhnya semangat juang bersama, terbangunnya rasa kebersamaan dan nasionalisme, dan bersinergi membela dan menjaga harga diri dan kemandirian negeri tercinta. 

Kta berharap, ketauladanan kepemimpinan yang luhur, patriotik, dan nasionalis seperti Panglima Besar Soedirman dapat diikuti oleh pemimpin-pemimpin TNI di berbagai level. Pesan Presiden prabowk di HUT TNI ke 80, bahwa " Kepemimpinan di TNI harus kepemimpinan keteladanan, harus kepemimpinan Ing Ngarso Sung Tulodo, harus memberi contoh di depan. Tidak ada tempat untuk pemimpin-pemimpin yang tidak kompeten, yang tidak profesional, yang tidak mengerti tugasnya", adalah relevan dan  urgensi masa kekinian. 

Semoga dengan "loreng"  baru TNI yang berwarna hijau muda dan cerah, dapat menjadi kebanggaan prajurit, lebih militan dan lebih ramah dan  hanga kepada rakyat. Aamiin. 

Selamat HUT TNI ke -80

Merdeka Bung !

Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas