Young Inforgs: Generasi Alpha yang Tumbuh dalam Pelukan Algoritma
Anak-anak generasi Alpha meniru lagu viral TikTok, mimesis digital menggeser musik anak tradisional dan pembentukan moral.
Editor:
Glery Lazuardi
Masalahnya bukan sekadar selera musik. Masalahnya adalah bagaimana selera itu dibentuk dan siapa yang mengendalikannya.
Algoritma Sebagai Kurikulum Baru Anak
Kita hidup dalam era ketika hampir semua anak telah terpapar media sosial. TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels menjadi ruang bermain baru yang sepenuhnya diatur oleh algoritma. Algoritma ini tidak netral. Ia belajar dari setiap klik, setiap detik tontonan, dan kemudian menyediakan konten yang memicu keterikatan emosional terbesar, bukan yang paling mendidik. Dalam konteks inilah, anak-anak kita telah menjadi apa yang disebut Luciano Floridi (2014) sebagai inforgs — information organisms — makhluk informasi yang tersinkronisasi dengan teknologi tanpa sekat ruang dan waktu.Mereka tumbuh dalam ekosistem digital di mana batas antara manusia dan mesin kian kabur.
Mereka adalah “young inforgs” — generasi yang tubuh biologisnya hidup di dunia nyata, tetapi kesadarannya dikonstruksi oleh arus data dan algoritma.
Donna Haraway, dalam A Cyborg Manifesto (1985), menyebut manusia modern sebagai cyborg: makhluk hibrida yang sudah menyatu dengan mesin, identitasnya dibentuk oleh jaringan informasi dan teknologi. Haraway menggambarkan bahwa cyborg tidak lagi memiliki batas yang jelas antara manusia dan teknologi — sebuah metafora yang kini tampak nyata dalam kehidupan anak-anak kita.
Bagi generasi Alpha, teknologi bukan sekadar alat. Ia adalah perpanjangan tubuh dan pikiran. Mereka bergerak, bernyanyi, dan berpikir dalam ritme algoritma — meniru gerakan, kata, dan gaya bicara yang viral, bahkan tanpa memahami maknanya.
Mimesis Digital: Ketika Anak Belajar dari Algoritma
Fenomena ini mengingatkan kita pada kekhawatiran Plato ribuan tahun lalu dalam The Republic. Plato memperingatkan bahaya mimesis — peniruan — dalam pendidikan anak.
Menurutnya, anak-anak mudah meniru apa yang mereka lihat dan dengar, dan tiruan itu membentuk moralitas mereka. Ia menolak seni yang menipu atau menampilkan nilai-nilai keliru, karena mimesis dapat mengacaukan pemahaman anak tentang kebaikan dan realitas.
Kini, TikTok dan media digital menjadi bentuk mimesis baru — mimesis digital.
Anak-anak meniru tarian, ekspresi, kata-kata, dan bahkan nilai-nilai yang terselip dalam tren. Sayangnya, sebagian besar konten yang viral tidak dirancang untuk mendidik, melainkan untuk menarik perhatian dan menghasilkan engagement.
Penurunan lagu anak-anak dan nursery rhymes tradisional menandakan hilangnya ruang aman bagi mimesis positif — ruang di mana anak bisa belajar meniru dengan aman, melalui musik dan gerak yang sesuai tahap tumbuh kembang mereka.
Pendidikan yang Alamiah dan Tantangan Zaman
Jean-Jacques Rousseau dalam Émile or On Education (1762) mengingatkan bahwa anak adalah makhluk alami yang baik. Pendidikan, menurutnya, seharusnya selaras dengan perkembangan alami anak, bukan dipaksakan oleh budaya atau teknologi yang belum sesuai dengan usianya.
Dunia digital hari ini justru menyalahi prinsip itu. Paparan terhadap konten dewasa, lirik yang kompleks, dan ritme cepat TikTok mempercepat kedewasaan semu dan mengganggu proses alami perkembangan anak.
Hilangnya lagu-lagu anak bukan sekadar kehilangan nostalgia — ia mencerminkan hilangnya medium pendidikan alami yang membantu anak mengenali dunia sesuai dengan tahap mereka. Rousseau seakan mengingatkan kita bahwa mendidik anak bukan soal membuat mereka “cepat dewasa”, tapi membiarkan mereka tumbuh sesuai alamnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan