Young Inforgs: Generasi Alpha yang Tumbuh dalam Pelukan Algoritma
Anak-anak generasi Alpha meniru lagu viral TikTok, mimesis digital menggeser musik anak tradisional dan pembentukan moral.
Editor:
Glery Lazuardi
Krisis Kontrol Moral di Era Tanpa Sekat
Plato, Rousseau, hingga Haraway mungkin hidup di zaman berbeda, namun benang merahnya jelas: manusia dibentuk oleh apa yang ia serap dari lingkungannya — dan hari ini, lingkungan itu dikuasai oleh algoritma.
Orang tua, guru, dan pengasuh kini menghadapi krisis kontrol moral. Ruang publik tempat anak belajar sudah berpindah ke layar. Dan layar itu diatur bukan oleh etika, tetapi oleh data dan bisnis perhatian.
Maka peran pendidik dan orang tua tidak lagi sekadar melarang atau mengontrol waktu layar.
Tugas mereka kini adalah membimbing kesadaran digital anak — membantu mereka memahami bahwa tidak semua yang viral patut ditiru, tidak semua yang populer bermakna, dan tidak semua yang ditampilkan adalah kebenaran.
Anak-anak perlu dibekali literasi digital yang berakar pada nilai-nilai moral dan kesadaran kritis, bukan sekadar kemampuan teknis.
Mereka perlu diajak berdialog — bukan dimarahi, tapi diajak berpikir seperti Socrates: “Apakah ini baik? Mengapa kamu menyukai ini? Apa artinya bagi kamu?”
Menjadi Pendamping di Dunia Para Young Inforgs
Generasi Alpha tidak akan bisa dipisahkan dari teknologi. Bloom (2015) menyebut fenomena ini sebagai sociomateriality — kondisi di mana manusia dan teknologi tidak lagi berdiri terpisah, melainkan saling membentuk dalam praktik keseharian.
Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari struktur sosial dan kebiasaan manusia, menawarkan kemudahan dan kenyamanan yang membuat kita, termasuk anak-anak, bergantung padanya. Namun kita bisa membentuk cara mereka berelasi dengan teknologi.
Jika dulu orang tua mengajari anak bernyanyi “Balonku” atau “Baby Shark”, kini mereka perlu mengajarkan bagaimana bernavigasi di dunia digital tanpa kehilangan arah moralnya.
Anak-anak adalah young inforgs — organisme informasi yang sedang belajar menjadi manusia di tengah jaringan algoritma.
Dalam konteks ini, anak-anak tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi tumbuh bersama dan melalui teknologi Tugas kita bukan menarik mereka keluar dari jaringan itu, tapi mengajari mereka bagaimana tetap menjadi manusia di dalamnya.
Dunia digital telah menjadikan anak-anak kita bukan hanya pengguna teknologi, tetapi bagian dari ekosistemnya. Mereka adalah cerminan dari algoritma yang mereka konsumsi.
Jika kita ingin mengembalikan nilai kemanusiaan mereka, maka pendidikan dan pendampingan moral harus ikut berevolusi — bukan menolak teknologi, tetapi menanamkan kesadaran di dalamnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan