Menyalakan Kembali Api Literasi di Kalangan Pelajar
Menyalakan kembali api literasi mungkin terasa seperti pekerjaan kecil di tengah lautan tantangan
Editor:
Eko Sutriyanto
Maria Meidita Widyastuti
- Mahasiswi Magister Komunikasi Stikom Interstudi
- Pengajar di Rumah Pintar Tembok Bolong Foundation
DI ERA ketika informasi melimpah di ujung jari, kita seolah hidup dalam zaman yang paling melek huruf sepanjang sejarah. Namun di balik kemudahan itu, muncul paradoks yang menggelisahkan: pelajar kita justru kian menjauh dari kebiasaan membaca yang mendalam.
Data literasi yang terus menurun hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih kompleks — krisis minat baca dan budaya literasi yang belum tertanam kuat dalam jiwa generasi muda.
Kita hidup di tengah arus konten singkat, cepat, dan instan. Dalam satu hari, pelajar bisa mengonsumsi ratusan informasi dari media sosial, tetapi jarang ada waktu untuk merenungkan makna di baliknya.
Buku, yang dulu menjadi jendela ilmu, kini kalah pamor dari layar ponsel. Banyak yang menganggap membaca teks panjang sebagai sesuatu yang melelahkan, bahkan membosankan. Akibatnya, kemampuan memahami, menalar, dan menulis pun menurun drastis.
Namun menyalahkan teknologi secara sepihak tentu tidak adil. Gawai bukan sumber masalah, melainkan cermin dari cara kita memanfaatkannya. Di sinilah persoalan mendasar literasi di Indonesia — ekosistem literasi yang belum terbentuk secara utuh.
Di sekolah, literasi kerap dipahami hanya sebagai program tambahan. Pojok baca dibuat menjelang lomba, buku dibaca sekadar menggugurkan kewajiban, dan kegiatan literasi dianggap pelengkap kurikulum, bukan bagian dari budaya belajar. Padahal, literasi sejati tidak tumbuh dari program sesaat, melainkan dari pembiasaan yang konsisten dan inspiratif.
Baca juga: Sinergi Dunia Industri dan Pendidikan Jadi Kunci Cetak SDM Unggul dan Inovatif
Lebih jauh lagi, krisis literasi mencerminkan hilangnya keteladanan membaca di lingkungan sekitar. Anak-anak belajar bukan dari perintah, melainkan dari contoh.
Ketika guru dan orang tua jarang terlihat membaca, bagaimana mungkin pelajar menumbuhkan kecintaan pada buku?
Budaya literasi lahir dari ruang-ruang kecil yang hangat — dari obrolan tentang isi buku, dari guru yang bercerita dengan mata berbinar, dari keluarga yang menyediakan waktu membaca bersama. Literasi bukan sekadar kemampuan akademik, tetapi cermin kedalaman berpikir dan kepekaan nurani.
Meski situasinya memprihatinkan, harapan itu belum padam. Masih banyak sekolah, komunitas, dan anak muda yang berjuang menyalakan kembali semangat membaca.
Di berbagai daerah, kita bisa menemukan pojok literasi yang lahir dari inisiatif guru dan siswa. Ada gerakan baca di taman, klub diskusi di warung kopi, hingga perpustakaan keliling yang masuk ke pelosok desa. Mereka membuktikan bahwa literasi bukan hanya urusan buku, tetapi tentang bagaimana kita menghargai ilmu dan kehidupan.
Agar gerakan literasi benar-benar hidup, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.
Pertama, ubah cara pandang terhadap literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memahami, menafsirkan, dan mengomunikasikan ide secara kritis dan etis.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan