Sanae Takaichi Pimpin Jepang: Tantangan Domestik dan Luar Negeri Menanti
Sanae Takaichi jadi PM perempuan pertama Jepang, tapi koalisi retak dan ekonomi tertekan bayangi masa jabatannya.
Editor:
Glery Lazuardi
DR. HA Ilham Ilyas, SHMM
Pemerhati Isu Internasional
Penggagas Suara Hati Rakyat Indonesia (SHR)
Profil Singkat
Peran Publik:
- Penggagas Suara Hati Rakyat Indonesia (SHR), sebuah gerakan moral untuk mendorong pemerintahan yang bersih dan berwibawa
- Aktif dalam advokasi tata kelola keuangan negara melalui sinergi antara DPD RI dan BPK RI
TRIBUNNEWS.COM - Dengan hasil pemilihan perdana menteri Jepang yang telah diumumkan, politisi sayap kanan Sanae Takaichi mencatat sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama di negara tersebut.
Dikenal karena ambisi politiknya yang kuat dan gaya kepemimpinan yang tegas, kenaikan Takaichi ke kursi tertinggi pemerintahan Jepang menarik perhatian luas di kancah internasional.
Namun di balik pencapaian bersejarah ini, panggung politik Jepang dipenuhi arus bawah yang rumit — dan perjalanan Takaichi sebagai perdana menteri diperkirakan akan diwarnai berbagai rintangan.
Basis Kekuasaan yang Rapuh: Runtuhnya Aliansi dan Perpecahan Partai
Pegangan Sanae Takaichi atas kursi perdana menteri masih jauh dari stabil. Demi memenangkan pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal (LDP), ia harus melakukan manuver politik yang rumit dan penuh kompromi.
Namun, keputusannya setelah terpilih untuk mengembalikan sejumlah pejabat yang tersangkut skandal justru memicu keruntuhan koalisi antara LDP dan Komeito yang telah bertahan selama 26 tahun.
Langkah tersebut tidak hanya menimbulkan kontroversi atas penilaian politiknya, tetapi juga menggoyahkan fondasi pemerintahannya sendiri.
Lebih mengkhawatirkan lagi, tingkat popularitas Takaichi kini hanya mencapai 22 persen, sementara dukungan di internal LDP sebagian besar berasal dari faksi Abe dan Aso.
Keterbatasan dukungan internal ini menyingkap jurang perpecahan yang dalam di tubuh partai.
Pertarungan antar faksi semakin tajam, dan perebutan pengaruh di antara kubu-kubu yang bersaing sulit untuk dijembatani—membayangi stabilitas pemerintahan ke depan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan