Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Motor, Moda Antara yang Tak Boleh Menjadi Takdir Kota

Arah pembangunan transportasi berkelanjutan seharusnya mengalihkan mobilitas dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum massal. 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Motor, Moda Antara yang Tak Boleh Menjadi Takdir Kota
Tribunnews/Jeprima
TRANSPORTASI - Di banyak kota, sepeda motor telah menjadi lambang efisiensi dan kebebasan mobilitas. Ia bisa menembus kemacetan, menjangkau gang sempit, dan mengantar dari pintu ke pintu. Namun di balik kenyamanan itu, ada paradoks besar: sepeda motor adalah moda antara, bukan tujuan akhir peradaban transportasi. Foto sejumlah pengendara roda dua melintas di kawasan Bundaran Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa (14/1/2025). 

6. Pembatasan Fungsi Ojek Daring untuk Barang

MTI memberi masukan tegas, pemerintah sebaiknya mengarahkan fungsi ojek daring (online) hanya untuk angkutan barang dan logistik mikro, bukan penumpang. Langkah ini akan:

Kemudian meningkatkan keselamatan lalu lintas, menjaga efisiensi ruang jalan di perkotaan dan memberi nilai tambah ekonomi karena motor berkontribusi pada rantai pasok logistik kota.

Transisi menuju kebijakan ini harus dilakukan bertahap dalam 3–5 tahun, sambil memperkuat transportasi umum massal agar masyarakat tetap memiliki pilihan mobilitas yang layak.

Motor Bukan Cermin Negara Maju

Negara-negara yang dulu padat motor, seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok telah berhasil menurunkan ketergantungan setelah membangun sistem kereta dan bus massal. 

Hasilnya bukan hanya mobilitas lancar, tetapi juga kota yang lebih manusiawi, udara lebih bersih, dan produktivitas meningkat.

Motor hanyalah moda transisi, bukan simbol kemajuan. Negara maju bukan yang memiliki motor terbanyak, tetapi yang warganya paling sedikit perlu motor untuk hidup produktif.

Menegakkan Arah Peradaban Mobilitas

Rekomendasi Untuk Anda

Arah kebijakan transportasi Indonesia harus kembali ke prinsip dasar: membangun angkutan umum yang andal, terintegrasi, dan bermartabat. 

Ojek daring sebaiknya diarahkan ke sektor logistik perkotaan, bukan menggantikan fungsi transportasi umum.

Kenyamanan sesaat tidak sebanding dengan biaya sosial jangka panjang. 

Peradaban mobilitas tidak dibangun dari mesin kecil yang berlari sendiri, melainkan dari sistem yang membuat semua orang bergerak bersama—lebih aman, hemat, dan berkeadilan.

Artikel ini merupakan pandangan resmi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) untuk mendorong kebijakan mobilitas berkelanjutan dan reformasi sistem transportasi perkotaan di Indonesia.

Halaman 4/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas