Perguruan Swasta: Mitra Strategis Negara dalam Mencerdaskan Bangsa
Refleksi Munas BMPS 2025: Sekolah swasta sebagai pilar strategis pendidikan nasional, mitra negara mencerdaskan bangsa.
Editor:
Glery Lazuardi
Odemus Bei Witono
- Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
- Imam Jesuit
- Kandidat Doktor STF Driyarkara
- Kolumnis
- Cerpenis
- Domisili di Jakarta
TANGGAL 25 November 2025 saya diundang sebagai narasumber dalam Munas Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS).
Acara yang berlangsung di Balai PPSDM Kemdikdasmen, Sawangan, Depok ini bukan hanya sebuah forum seremonial, melainkan ruang refleksi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pendidikan dari beragam wilayah dan latar belakang.
Pertemuan ini membuka kesempatan untuk melihat kembali posisi sekolah swasta dalam arsitektur pendidikan nasional, terutama dalam konteks perubahan sosial dan kebijakan yang terus bergerak.
Di tengah tantangan pemerataan akses, kualitas pembelajaran, hingga kompetisi global, forum tersebut menegaskan urgensi untuk menata ulang cara pandang terhadap keberadaan sekolah swasta dalam ekosistem pendidikan Indonesia.
Musyawarah tersebut menggarisbawahi satu pesan yang sering terlupakan dalam wacana pendidikan publik: sekolah swasta bukan pelengkap atau pengisi celah, melainkan pilar strategis yang telah bekerja jauh sebelum Republik ini berdiri.
Selama ini, sekolah swasta kerap diposisikan sebagai opsi kedua setelah sekolah negeri, padahal sejarah menunjukkan bahwa mereka berdiri lebih dulu, mengambil peran yang belum mampu diambil negara.
Dengan demikian, keberadaan sekolah swasta bukan sekadar alternatif, tetapi fondasi historis yang menopang hadirnya pendidikan modern di Indonesia.
Penegasan ini penting untuk memulihkan penghargaan kolektif terhadap kontribusi sekolah swasta sebagai bagian integral dari perjalanan bangsa dalam memajukan pendidikan.
Sejarah mencatat bahwa lembaga-lembaga seperti Yayasan Kanisius Jawa Tengah, Muhammadiyah, Taman Siswa, Perkumpulan Strada, dan perguruan sekolah Kristen Protestan telah membuka akses pendidikan bagi rakyat biasa pada masa ketika pendidikan hanya dapat dinikmati kelompok elite di era Hindia Belanda.
Ketika negara belum berperan dalam penyediaan pendidikan dasar, lembaga-lembaga ini tampil sebagai pionir yang melayani kebutuhan masyarakat luas.
Mereka membangun sekolah, mendidik generasi muda, dan membuka pintu bagi kelompok sosial yang sebelumnya terpinggirkan.
Kehadiran sekolah-sekolah ini menunjukkan keberanian moral dan visi jauh ke depan dari para perintis pendidikan yang percaya bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai melalui pencerdasan rakyat.
Kelahiran sekolah swasta pada masa kolonial tidak bisa dilepaskan dari politik etis yang dicanangkan pemerintah Hindia Belanda.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan