Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Mengenang 2 Tahun Almarhum Doni Monardo: Balada Nasi Padang

Hari ini, genap 2 tahun Letjen TNI Purn DR (HC) Doni Monardo meninggalkan kita semua (3 Desember 2023 – 3 Desember 2025).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mengenang 2 Tahun Almarhum Doni Monardo: Balada Nasi Padang
HO/IST
MENGENANG DONI MONARDO - Mantan Kepala BNPB Doni Monardo dan Egy Massadiah, jurnalis senior yang mendampingi almarhum sebagai Tenaga Ahli merangkap staf khusus Kepala BNPB. 

Tiba hari H keberangkatan, kami kumpul di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ada kejadian menarik. Dari 15 anak buah yang sedia berangkat, dan sudah terdaftar dalam manifes penerbangan, satu di antaranya urung. Keluarganya tidak mengizinkan anaknya berangkat ke medan bencana. Karena itu, Jony sigap mencari pengganti.

Itu sempat menjadi masalah. Sebab, satu orang pengganti ini tidak ada dalam manifes penumpang yang sedia terbang ke Mamuju. “Petugas sambil bercanda bilang, ‘ini bukan angkot’. Tapi setelah kami jelaskan mengenai kondisi darurat, serta kami urus administrasinya, satu orang pengganti itu bisa berangkat,” ujar Jony lega.

Sebelum berangkat, ia menghubungi temannya yang ada di Makassar, dan meminta bantuan 10 tenaga. Mereka semua berasal dari Makassar, dan jumpa di Mamuju. Tiba di Mamuju sudah gelap. Malam itu juga ia menghadap Doni Monardo

Di situlah ia baru sadar, bahwa sekalipun ini memasak untuk keperluan korban bencana, tetapi tetap dianggarkan. “Kami dialokasikan anggaran lima-belas-ribu rupiah per bungkus. Angka itu cukup, dengan catatan tidak bisa mengemasnya dalam kardus kotak, melainkan nasi bungkus. Pak Doni setuju. Saya sendiri tidak mikir untung. Yang penting bisa membantu,” katanya.

Saat itu, Jony mendapat perintah untuk menyiapkan 6.000 nasi Padang bungkus per hari. Sebanyak 2.000 bungkus di pagi hari, 2.000 bungkus siang hari, dan 2.000  bungkus untuk makan malam. Jony mengoptimalkan dana yang ada dengan menyajikan menu terbaik.

“Kalau di Jawa, benar-benar mustahil. Bayangkan, menu setiap hari itu lauknya enak-enak. Selain rendang, kadang ikan, dan kali lain udang yang besar-besar. Itu semua sangat dimungkinkan karena harga ikan dan udang di sana memang jauh lebih murah disbanding harga di Jawa,” katanya.

Kepala Ikan Kakap

Rekomendasi Untuk Anda

Setiap hari, diminta-atau-tidak, Jony melapor ke Doni Monardo tentang rencana menu yang hendak dimasak. Setiap hari. Tanpa kecuali. Hingga tiba suatu hari, Doni Monardo mengajukan request khusus. Ia bertanya apakah ada kepala ikan kakap? Joni spontan menjawab, ‘Ada’.

Rupanya, Doni minta Jony dan para juru masaknya bekerja ekstra, di luar menyiapkan 6.000 nasi bungkus per hari, hari itu ketambahan tugas memasak menu spesial kepala ikan kakap. Tidak hanya seporsi, tetapi beberapa porsi.

Belakangan Jony baru tahu, rupanya Doni ingin mengirim menu spesial itu kepada sejumlah pejabat yang telah pontang-panting bekerja keras siang-malam menangani proses tanggap darurat, sementara tidak pernah “berjumpa” makanan yang enak.

Jadilah, Jony memasak kepala ikan kakap dan kemudian dikirim ke Gubernur, Wakil Gubernur, Kapolda, Sekda, dan Danrem. “Besoknya saat jumpa di lapangan mereka berterima kasih. Katanya, ‘waduhhh kepala ikan kakapnya enak sekali. Terima kasih. Sudah lama sekali rasanya nggak makan enak. Alhamdulillah,” ujar Jony menirukan kalimat para pejabat Forkopimda Sulbar yang telah menerima kiriman menu spesial darinya.

Tak hanya itu, komplimen dari para relawan di lapangan juga ia terima. Mereka mengaku, selama jadi relawan di berbagai medan bencana, baru di Mamuju merasakan makanan enak. “Kita betul-betul menerapkan standar cita rasa rumah makan Padang ‘Sederhana’,” katanya.

Sesekali, Jony juga bertanya kepada relawan dan yang bakal menerima pasokan makan dari dapurnya, tentang keinginan dimasakkan apa. Ada yang minta ayam, bandeng, ikan, udang, dan lain-lain. “Alhamdulillah, sepanjang tersedia bahannya, kami penuhi permintaan mereka. Setidaknya, itulah yang bisa kami perbuat untuk membantu proses penanganan bencana alam di Mamuju,” ujarnya.

Water Treatment

Dapur umum “restoran Padang darurat” Jony berada di halaman komplek kantor BPBD Sulbar. Satu-dua hari tidak ada persoalan. Hari ketiga mulai ada masalah, terkait pembuangan limbah dapur. Masalah bau pun muncul, disusul datangnya pasukan lalat yang tak pernah diundang.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas