Mengurai Kekosongan Talenta Pendidikan di Era Skill-Based
Krisis talenta: 46% perusahaan kesulitan rekrut karyawan sesuai, pendidikan dituntut revolusi manajemen SDM.
Editor:
Glery Lazuardi
Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan
Imam Jesuit
Kandidat Doktor STF Driyarkara
Kolumnis
Cerpenis
Domisili di Jakarta
Tingginya angka 46 persen perusahaan yang kesulitan menemukan karyawan yang sesuai, sebagaimana data yang mengemuka pada tanggal 3 Desember 2025 dalam forum kemitraan seperti di Gedung Yustinus Unika Atma Jaya Jakarta, dengan tema:"Transforming Together: Nurturing Readiness for the Future", adalah sebuah penanda krisis talenta yang tidak bisa diabaikan.
Krisis demikian bukan hanya persoalan industri, tetapi juga mencerminkan tantangan fundamental yang dihadapi lembaga pendidikan sebagai "penghasil utama" sumber daya manusia.
Dalam konteks acara kemitraan ini, diskusi mengenai idealitas linieritas ijazah, attitude kerja, dan kebutuhan skill spesifik seperti data analisis hanya menyentuh permukaan dari dilema rekrutmen yang jauh lebih kompleks.
Secara filosofis, pendidikan tinggi, terutama universitas, sejatinya didirikan bukan semata-mata untuk mencetak tenaga kerja, melainkan untuk membangun manusia seutuhnya—individu yang mampu menghidupi hidup secara bermakna, kritis, dan beretika.
Tujuan luhur ini mencakup pengembangan penalaran, pembentukan karakter (attitude), dan pemahaman mendalam tentang ilmu pengetahuan. Inilah tegangan utama yang harus diakui: visi luhur pendidikan berhadapan dengan kenyataan hidup di dunia usaha yang menuntut skill spesifik dan profitabilitas instan.
Lembaga pendidikan tinggi memiliki peran ganda, yakni mereka bertanggung jawab menghasilkan lulusan yang siap kerja skill-based dan, pada saat yang sama, harus merekrut serta mempertahankan talenta internal terbaik.
Di sinilah letak irisan masalahnya. Institusi pendidikan harus bersaing dengan sektor industri agar mendapatkan talenta terampil, seperti analis data atau spesialis teknologi, yang dibutuhkan sebagai tenaga pengajar atau bahkan sebagai staf kependidikan yang mengelola sistem informasi akademik.
Dunia kerja saat ini dengan cepat bergerak ke paradigma skill-based economy, di mana kemampuan praktis—sebuah "presisi dari tidak bisa menjadi bisa"—menjadi lebih berharga daripada sekadar kepemilikan gelar.
Job transformation yang terjadi dengan kecepatan eksponensial menuntut skill yang selalu baru, membuat kurikulum dan kebutuhan industri seringkali tidak sinkron.
Perusahaan mencari kelincahan, sementara lembaga pendidikan seringkali terikat pada birokrasi dan tradisi akademik yang kaku.
Tegangan filosofis antara menghidupi hidup (pembentukan karakter) dan mencari kerja (penguasaan skill) tidak boleh diartikan sebagai oposisi mutlak, melainkan sebagai sebuah spektrum yang harus dijembatani.
Pendidikan harus menanamkan dasar filosofis yang kuat agar lulusan tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki attitude dan sense of purpose.
Di sisi lain, pembekalan skill praktis dan relevan, seperti data analisis, adalah sebuah jembatan agar lulusan mampu bertahan dan berkontribusi secara nyata di dunia usaha.
Ketika fokus dialihkan ke kebutuhan internal lembaga pendidikan menengah (SMK) dan tinggi, tantangan rekrutmen tenaga guru atau dosen menjadi sangat spesifik. Idealnya, pengajar tidak hanya harus menguasai pedagogi, tetapi juga harus relevan secara industri.
Misalnya,mencari seorang dosen di bidang Data Analytics yang memenuhi standar akademik (gelar dan publikasi) sekaligus memiliki skill praktis industri yang mutakhir (penguasaan tools dan pengalaman di lapangan) adalah tugas yang hampir mustahil dalam iklim kompetisi gaji saat ini.
Hal serupa terjadi pada kebutuhan tenaga karyawan atau tenaga kependidikan. Dalam era digitalisasi, staf kependidikan yang mengelola sistem database mahasiswa, keuangan, atau operasional sekolah atau kampus harus memiliki skill yang setara dengan talenta di korporasi.
Namun demikian, struktur gaji dan jenjang karir di sektor pendidikan non-akademik seringkali tidak kompetitif, menyebabkan turnover tinggi di posisi-posisi kunci yang membutuhkan skill khusus dan maju.
Kekakuan dalam mendefinisikan talenta juga menjadi kendala. Institusi pendidikan cenderung mengutamakan linieritas ijazah dan rekam jejak akademik formal sebagai filter utama.
Meskipun hal ini penting untuk menjaga kedalaman ilmu, sikap ini sering mengeliminasi para praktisi industri ulung yang mungkin tidak memiliki gelar tertinggi tetapi sangat kaya akan skill dan attitude yang dibutuhkan dunia kerja, sekaligus mampu mencontohkan bagaimana menghidupi hidup melalui profesi yang berhasil.
Oleh karena itu, strategi manajemen talenta (Talent Management) di lingkungan pendidikan harus direvolusi. Tidak cukup hanya menugaskan divisi personalia untuk rekrutmen.
Dibutuhkan pembentukan organisasi di devisi personalia yang bertransformasi menjadi unit strategis, fokus pada pemetaan kebutuhan skill masa depan, bukan sekadar pemenuhan formasi jabatan yang sudah ada, sekaligus memastikan attitude dan etos kerja yang selaras dengan nilai-nilai filosofis kampus.
Revolusi ini menuntut institusi untuk mendefinisikan ulang apa itu "talenta". Mereka harus membuka diri secara lebih luas untuk merekrut praktisi industri sebagai dosen paruh waktu atau dosen praktisi.
Langkah ini secara efektif menjembatani jurang antara tuntutan industri dan kedalaman ilmu, memungkinkan skill yang mutakhir ditransfer langsung kepada mahasiswa dan, pada gilirannya, kepada tenaga pengajar internal melalui kolaborasi.
Kedua, fokus harus bergeser dari sekadar mencari yang sempurna secara eksternal menjadi berinvestasi pada pengembangan talenta internal. Institusi perlu mengadopsi model pembelajaran seumur hidup bagi guru dan karyawan mereka.
Program up-skilling dan reskilling intensif, misalnya pelatihan coding atau Data Analytics, bagi staf pengajar dan kependidikan yang telah lama mengabdi adalah cara paling efektif untuk mengatasi kelangkaan skill secara cepat dan berkelanjutan.
Dengan demikian, tegangan filosofis tidak hilang, tetapi diintegrasikan. Institusi dapat maju dengan sistem yang lebih baik—sistem yang menghargai sinergi antara kedalaman ilmu untuk menghidupi hidup secara bermakna dan penguasaan skill presisi untuk mencari kerja di dunia nyata.
Hanya dengan memiliki guru (SMK) atau dosen dan karyawan yang maju dan adaptif, institusi dapat menghasilkan lulusan yang seimbang, yakni memiliki skill, attitude, dan kemampuan kerja yang presisi, mengubah keterbatasan filosofis dan pragmatis menjadi keunggulan kompetitif.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.