Alam Mulai Bicara
Toba adalah kita: suara alam, pertobatan ekologi, dan peringatan keras atas abai menjaga lingkungan.
Editor:
Glery Lazuardi
Ibuku alam, akan marah
Ia akan ubah jadi sunyi mencekam
Hujan duka meluap
ratap dan tangis akan melangit
Ari matamu akan menyatu banjir bah
melanda semua segala
Ibuku akan murka
Ia adalah angin menusuk
Bagai anak panah dendam kesumat
Tanpa peringatan,
tanpa pilih siapa pelaku siapa korban
Hujan kebohongan bukanlah berkat
Sebab sungai kejujuran mengubahnya
menjadi bencana
amuk banjir bandang tanah longsor
Ibuku alam memang marah
Sebab kalian abai Perintah Sang Pencipta yang pertama pada manusia :
Peliharalah Taman Eden. (Kej 2;15). Rawatlah alam lingkungan.
Engkau akan menggigil dalam sunyimu
Mereka yang kau elukan entah di mana
Di manakah dia yang dielu-elukan bak pahlawan itu?
Di mana dia yang suaranya lantang menggelegar umbar janji itu?
Entahlah,
Seribu dalih dan sandiwara tipu-tipu
Mereka pamer tanpa malu-malu
Mereka tak punya telinga tak punya hati
Mereka tidak akan mengaku bersalah.
Bahkan menuduh alam yang salah
Maka menangislah
Tissu yang dibuat dari bahan kayu
hutan luas yang direbah serata tanah
lalu diangkut ke pabrik
Tak akan sanggup membendung air matamu
Ibuku alam, tak pernah berbohong
Batu dan lumpur membawa kayu jarahan, menambah beban utk memporak porandakan kampung dan rumahmu
membuktikan kemunafikan mereka
yang janji teriak lantang itu
mereka yang bak pahlawan itu
Peganglah kata-kataku
ini belum selesai
Besok akan lagi, dan lebih lagi
Toba Adalah Kita
Kami suarakan ini di Parapat persis 10 tahun lalu. Tahun 2015 (Acara YPDT) pertobatan ekologi dengan menyalakan 1000 lilin di seluruh kawasan Danau Toba.
Di malam 30 Desember 2015, GCDT (Gerakan Cinta Danau Toba 27-30 Des 2015, Menyalakan lilin di seluruh Kawasan Danau Toba) dan live di Parapat.
Sekarang banyak berita dan cerita. Katanya ini hanya gejala alam semata. Semua tidak perlu kuatir, karena ini akan berlalu.
Toba yang baik,
Tao nauli, aek na tio, mual hangoluan
airnya sudah keruh dan ikan mati
tapi kata mereka yang punya kata-kata,
Itu fenomena biasa
esok matahariakan cerah
Danau Toba akan jernih kembali.
Tetapi hujan akan berhenti
Kekeringan akan lebih panjang lagi. Keramba akan tetap ada
Merusak segalanya di tengah danau. Mereka aman dan tidak perlu kuatir,
panen tetap raya.
Hutan masih ada, penebang jangan berhenti, tunas masih akan tumbuh.
Benih masih banyak, tetaplah menebang.
Tetapi "Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi."
Jangan ada sesal kalau tahun berikut kaluan hanyut bersama handai taulan di sana. Karena telinga sdh tidak mendengar dan mata sdh tidak melihat.
Terdengar lantang di televisi
Kembali dan pulanglah dari pengungsian. Besok matahari masih terbit. Sembako akan datang, pejabat bak pahlawan bawa segenggam harapan.
Tersedia permen buat anak yang kehilangan ayah dan ibu. Manis anakku, makan lah.
Berhentilah menangis. Masih ada tissu untuk air matamu, diproduksi dari kayu hutan sekelilingmu.
Toba adalah kita
Yang membiarkan tontonan itu
sementara kayu-kayu masih tetap antri
masuk pabrik untuk dijadikan tissue menghapus air mata kita.
Tao nauli, aek na tio, mual hangoluan
Sipalambok pusupusu,
Alai dung hupajojok dompak ho,
Rohanghu pe lamu gondok,
Ooo, Tao Toba Nauli .
Haruskah aku pergi menjauh?
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.