Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang

Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang: Refleksi Religi dalam Misi Kemanusiaan PB PDGI, Oleh drg Eka Erwansyah

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang
HO/IST
TRIBUNNERS - Eka Erwansyah, Sekjen PB PDGI/ Pengarah Gugus Tugas PDGI Tanggap Bencana area Sumbar. 

Katanya, setelah tsunami 2004, banyak orang mulai membeli atau membangun rumah di dataran tinggi. Mereka ingin aman. Mereka ingin menjaga keluarga dari ancaman air besar. Perbukitan dan lereng gunung menjadi pilihan populer.
“Biarlah banjir di bawah,” kata orang-orang saat itu. “Yang penting kita sudah naik ke tempat aman.”

Namun kini, tutur sopir itu dengan nada getir, justru daerah tinggi itulah yang luluh lantak.

“Yang hancur itu rumah-rumah di ketinggian, Pak. Bukan di pusat kota yang rendah,” katanya.
“Airnya bukan naik dari bawah. Tapi turun dari gunung. Bawa batu, kayu, lumpur, tanah longsor, menghantam semua rumah yang ada di jalurnya.”

Saya terdiam.

Semua gambaran saya sepanjang perjalanan berubah seketika.

Saat Takdir Turun dari Arah yang Tak Disangka

Di sinilah renungan itu muncul.

Rekomendasi Untuk Anda

Kita sering mengira bahwa keselamatan bisa kita bangun dengan strategi. Kita berpikir bahwa dengan berpindah tempat, meninggikan rumah, memilih lokasi yang katanya aman, kita bisa mengalahkan ancaman alam.

Tapi hari itu, Tuhan seperti ingin menunjukkan sesuatu.

Bahwa air dapat datang dari arah yang tak pernah kita duga.
Bahwa tempat yang dahulu aman bisa menjadi titik paling berbahaya.
Bahwa manusia, sekuat apa pun akalnya, tidak pernah sepenuhnya berkuasa.

Sama seperti pesan Al-Qur’an:

“Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)

Ada orang yang selamat dari tsunami 2004 karena tinggal di ketinggian.
Ada yang merasa aman di tempat itu selama 20 tahun.
Namun ketika Tuhan berkehendak menguji dengan cara berbeda, maka air turun dari gunung, bukan naik dari laut.

Seakan Tuhan ingin berkata:
“Bukan tempatmu yang menyelamatkanmu, tetapi Aku.”

Pelajaran dari Bencana

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas