Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang
Bencana dari Atas Gunung: Pesan Tuhan dari Tanah Minang: Refleksi Religi dalam Misi Kemanusiaan PB PDGI, Oleh drg Eka Erwansyah
Editor:
Tiara Shelavie
Katanya, setelah tsunami 2004, banyak orang mulai membeli atau membangun rumah di dataran tinggi. Mereka ingin aman. Mereka ingin menjaga keluarga dari ancaman air besar. Perbukitan dan lereng gunung menjadi pilihan populer.
“Biarlah banjir di bawah,” kata orang-orang saat itu. “Yang penting kita sudah naik ke tempat aman.”
Namun kini, tutur sopir itu dengan nada getir, justru daerah tinggi itulah yang luluh lantak.
“Yang hancur itu rumah-rumah di ketinggian, Pak. Bukan di pusat kota yang rendah,” katanya.
“Airnya bukan naik dari bawah. Tapi turun dari gunung. Bawa batu, kayu, lumpur, tanah longsor, menghantam semua rumah yang ada di jalurnya.”
Saya terdiam.
Semua gambaran saya sepanjang perjalanan berubah seketika.
Saat Takdir Turun dari Arah yang Tak Disangka
Di sinilah renungan itu muncul.
Kita sering mengira bahwa keselamatan bisa kita bangun dengan strategi. Kita berpikir bahwa dengan berpindah tempat, meninggikan rumah, memilih lokasi yang katanya aman, kita bisa mengalahkan ancaman alam.
Tapi hari itu, Tuhan seperti ingin menunjukkan sesuatu.
Bahwa air dapat datang dari arah yang tak pernah kita duga.
Bahwa tempat yang dahulu aman bisa menjadi titik paling berbahaya.
Bahwa manusia, sekuat apa pun akalnya, tidak pernah sepenuhnya berkuasa.
Sama seperti pesan Al-Qur’an:
“Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Ada orang yang selamat dari tsunami 2004 karena tinggal di ketinggian.
Ada yang merasa aman di tempat itu selama 20 tahun.
Namun ketika Tuhan berkehendak menguji dengan cara berbeda, maka air turun dari gunung, bukan naik dari laut.
Seakan Tuhan ingin berkata:
“Bukan tempatmu yang menyelamatkanmu, tetapi Aku.”
Pelajaran dari Bencana
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan