Bencana di Sumatera sebagai Ruang Pembelajaran
Banjir bukan kejutan, melainkan peringatan: hutan hilang, tanah rapuh, air berkah berubah jadi bencana.
Editor:
Glery Lazuardi
Oleh Sr. M. Tarcisia Sembiring FSE
Kepala SD dan TK Santo Petrus Tuapejat, Mentawai, Sumatera Barat.
Banjir tidak pernah hadir sebagai kejutan. Ia tidak jatuh dari langit tanpa tanda. Banjir adalah suara peringatan yang perlahan dibentuk oleh serangkaian pilihan manusia pilihan yang kecil, pilihan yang besar, dan terutama pilihan yang diambil dengan tergesa.
Ia lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang kita anggap sepele: membuang sampah sembarangan, menutup tanah dengan beton tanpa ruang resapan, atau membiarkan saluran air tersumbat karena “nanti saja”. Tetapi lebih dari itu, banjir adalah akibat dari kebijakan politik yang salah arah, keputusan yang terlalu sering mengorbankan alam demi keuntungan sesaat.
Pohon Hutan selalu punya cara berbicara, meski manusia sering kali tidak mendengarnya. Di setiap akar yang merayap masuk ke tanah, ada kisah tentang bagaimana bumi dijaga. Akar-akar itu bekerja seperti tangan-tangan tua yang sabar, mengikat butir tanah satu per satu agar tidak hanyut ketika hujan turun.
Dalam bahasa ilmiah, itu disebut stabilisasi tanah.
Dalam bahasa hati, itu adalah pelukan pohon kepada bumi, agar tidak mudah runtuh.
Batang pohon berdiri tegak bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Ia menjadi tiang penyangga langit, memperlambat jatuhnya air, memecah angin, dan menahan aliran sebelum berubah menjadi amukan.
Daun-daunnya pula yang membuka payung alam. Mereka menahan setiap tetes hujan bukan untuk menolak, tetapi untuk menuntun air turun dengan lembut.
Namun ketika pohon-pohon itu hilang, bumi mulai kehilangan keseimbangannya. Tanah menjadi rapuh dan ringan, mudah goyah, mudah runtuh. Hujan yang dulu jatuh sebagai berkat, berubah menjadi beban yang tak tertahankan bagi tanah telanjang.
Dan itulah yang kini kita lihat pada bumi di sebelah barat negeri ini.
Di Sibolga, sungai yang biasanya bersahabat tiba-tiba berubah menjadi ular air yang mengamuk. Air membawa batang, lumpur, batu seakan membawa cerita tentang bukit-bukit yang kehilangan pelindungnya.
Di Medan, banjir menyerbu kota seperti tamu yang tak mengenal pintu. Rumah-rumah terendam, jalan-jalan menjadi lautan, dan keluarga-keluarga berjuang menyelamatkan yang tersisa. Di balik itu semua, ada bagian hutan yang menipis, lereng yang dikosongkan, dan tanah yang tak lagi punya pegangan.
Di Aceh, tanah longsor turun seperti tirai berat yang menutup panggung kehidupan. Tak ada peringatan selain suara bumi yang retak pertanda bahwa akar-akar penjaga sudah terlalu sedikit untuk menahan tubuh bumi yang berat.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan