Bencana di Sumatera sebagai Ruang Pembelajaran
Banjir bukan kejutan, melainkan peringatan: hutan hilang, tanah rapuh, air berkah berubah jadi bencana.
Editor:
Glery Lazuardi
Sementara di Padang, hujan jatuh seperti palu besar, menghantam bukit-bukit yang sejak lama sunyi dari pohon. Tanah yang lemah tak mampu lagi berdiri; ia menyerah, lalu turun, membawa serta rumah-rumah yang dibangun di bawahnya.
Secara ilmiah, semua ini dapat dijelaskan: hujan ekstrem, hutan berkurang, struktur tanah melemah, dan aliran air kehilangan kendali. Namun di balik penjelasan itu, ada metafora yang lebih dalam: bumi sedang sakit karena kehilangan penjaganya.
Bencana-bencana itu bukan sekadar peristiwa alam mereka adalah pesan, sebuah panggilan yang tidak bisa lagi kita abaikan.
Narasi ini ingin mengingatkan kita bahwa setiap pohon bukan hanya sebatang kayu. Ia adalah penopang tanah, penyaring air, penenang aliran sungai, dan perisai manusia. Ketika satu pohon tumbang, mungkin bencana tidak langsung terjadi. Namun ketika ribuan hilang, bumi mulai runtuh dan manusia yang pertama merasakan luka itu.
Semoga kisah dari Sibolga, Medan, Aceh, dan Padang menjadi pengingat yang menggugah: bahwa menanam pohon adalah tindakan kecil, tetapi dengan dampak yang panjang; bahwa merawat hutan adalah bentuk kasih yang tak banyak kata, tetapi menyelamatkan banyak nyawa; bahwa menjaga bumi sama halnya menjaga diri kita sendiri.
Hutan yang dulu menjadi penyangga kini habis dibabat dengan berbagai alasan kemajuan, pembangunan, investasi. Padahal, setiap pohon yang hilang adalah satu tiang penopang kehidupan yang tumbang. Sistem drainase yang buruk dibiarkan terus memburuk, alih fungsi lahan terjadi tanpa perhitungan, dan pemukiman tumbuh tanpa visi masa depan.
Dan akhirnya, ketika hujan turun, tanah tak lagi sanggup menampung, sungai tak lagi mampu menahan, dan air yang semestinya menjadi berkah justru menjadi malapetaka.
Namun di tengah semua ini, kita punya kesempatan untuk belajar. Belajar untuk lebih peduli. Belajar untuk berhenti menunda. Belajar untuk kembali mencintai bumi yang setiap hari menopang hidup kita. Bumi yang semakin tua ini terus menghela napas panjang, memohon agar anak-anaknya lebih sadar, lebih lembut, dan lebih bijaksana dalam memperlakukannya.
Kita pun dipanggil untuk lebih membuka mata terhadap kebijakan-kebijakan yang mengatur hidup bersama. Tidak cukup hanya peduli, kita harus peka, bertanya, mengawasi, dan berani menyuarakan kebenaran ketika alam terancam. Karena bencana bukan hanya urusan pemerintah atau para ahli; bencana adalah urusan kita semua manusia yang hidup, tumbuh, dan berharap di bumi yang sama.
Semoga hati kita tetap terbuka, tangan kita tetap terulur, dan sikap kita tetap rendah hati dalam merawat ciptaan.
Agar generasi yang datang setelah kita menemukan bumi yang masih bisa ditinggali, bukan hanya dikenang dalam cerita.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan