Deforestasi dan Risiko Boom and Bust Ekonomi di Kabupaten Berau
Deforestasi di Berau memberi manfaat sesaat, tapi mengancam stabilitas ekonomi jangka panjang dan investasi.
Editor:
Glery Lazuardi
Lisa Puspitasari
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Berau
Riwayat Pendidikan
S1 Ekonomi Pembangunan Universitas Mulawarman Samarinda 2010-2014
S2 Ilmu Ekonomi Universitas Mulawarman Samarinda 2014-2017
S3 Ilmu Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 2021-2024
Ekonomi melihat deforestasi sebagai proses alih fungsi lahan yang menimbulkan dampak luas, Khususnya untuk daerah-daerah yang masih bergantung pada modal alam guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Deforestasi merupakan fenomena struktural yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.
Pada tahap awal, deforestasi sering memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah, terutama melalui peningkatan Pendapatan daerah dari Sektor Ekstraktif, Perusahaan sawit dan tambang menjadi sumber lapangan kerja, Namun, manfaat ini bersifat sementara (temporary economic rent) dan sering tidak sebanding dengan kerugian jangka panjang.
Namun, pertumbuhan perkebunan kelapa sawit, pertambangan batubara, dan pembangunan infrastruktur dalam 20 puluh tahun terakhir telah mempercepat laju deforestasi.
Tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi jangka panjang. Dari perspektif produktivitas ekonomi, deforestasi menyebabkan kerusakan tanah yang menyebabkan penurunan kapasitas lahan untuk mendukung aktivitas pertanian dan agroforestri.
Biaya produksi meningkat karena degradasi tanah akibat erosi dan hilangnya unsur hara sehingga akan mengakibatkan penurunan hasil pertanian. Ketergantungan yang semakin besar terhadap industri ekstraktif seperti tambang dan sawit menciptakan risiko ekonomi yang bersifat boom and bust cycle, di mana ekonomi tumbuh ketika harga komoditas naik, tetapi rentan melambat saat harga komoditas turun atau cadangan sumber daya menipis.
Sektor-sektor ini sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan keberlanjutan cadangan sumber daya alam. Ketika harga batu bara atau crude palm oil (CPO) tinggi, perekonomian daerah mengalami fase pertumbuhan pesat.
Namun, saat harga turun atau cadangan menipis, aktivitas ekonomi melemah secara signifikan. Pola fluktuatif yang dikenal sebagai boom and bust cycle ini menimbulkan ketidakpastian ekonomi dan menghambat kemampuan daerah untuk menjaga pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, dampak negatif deforestasi pada lingkungan juga dapat mengurangi minat investasi. Konflikt lahan, risiko bencana, dan degradasi lingkungan mampu meningkatkan biaya operasional dan menurunkan nilai ekonomi daerah.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan