Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribunners
LIVE ●
tag populer

Tribunners / Citizen Journalism

Mitigasi Risiko Perekonomian Global

Risiko global 2026: konsumsi turun, inflasi tinggi, utang naik, proteksionisme baru tekan ekonomi dunia.

Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Mitigasi Risiko Perekonomian Global
HO/IST
Muhammad Syarkawi Rauf 

Namun, pada saat jatuh tempo pembayaran utang membuat pengeluaran menurun dan harga asset juga turun secara signifikan. Akibatnya, pendapatan dari asset produktif juga mengalami penurunan. Investor merasa situasi ekonomi lebih buruk. 

Fenomena ini membuat pertumbuhan utang pemerintah sebagai persentase terhadap GDP meningkat sangat signifikan. Sebagai contoh, rasio utang pemerintah AS terhadap GDP telah mencapai 123 persen, Jepang jauh lebih tinggi sekitar 235 persen, Singapura sebesar 175 persen, Inggris 104 persen dan lainnya (IMF, 2025). 

Peningkatan risiko perekonomian global tahun 2026 berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026, yaitu diperkirakan tumbuh sekitar 2,6 persen. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 2,9 persen (UNCTAD, 2025). 

Proyeksi pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 dan 2026 sejalan dengan kecenderungan pelambatan pertumbuhan ekonomi global selama dua dekade terakhir. Di mana rata-rata pertumbuhan ekonomi global periode 2004 – 2007 sekitar 4,4 persen, turun menjadi 3,0 persen pada periode 2011 – 2019 dan 2,7 persen pada periode 2023 – 2026.

Tren pertumbuhan ekonomi global sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi China sebagai perekonomian terbesar kedua dunia, yaitu dari rata-rata lebih besar 10 persen selama periode 2004 – 2011 menjadi hanya 5,0 persen selama periode 2023 – 2026. Bahkan perekonomian China mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 14,2 persenn tahun 2007. 

Hal yang sama juga dialami oleh perekonomian AS sebagai perekonomian terbesar dunia, yaitu mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dari 3,8 persen tahun 2004 menjadi sekitar 2,9 persen tahun 2023, sekitar 2,8 persen tahun 2024, lalu diperkirakan kembali melambat menjadi 1,8 persen tahun 2025 dan 1,5 persen tahun 2026. 

Perekonomian UE juga mengalami kecenderungan yang sama, yaitu tumbuh sekitar 3,6 persen tahun 2022, lalu turun menjadi 0,4 persen tahun 2023 karena perang Ukraina, selanjutnya diproyeksi menjadi 1,3 persen tahun 2025 dan 1,4 persen tahun 2026. 

Rekomendasi Untuk Anda

Pola yang sama juga terjadi di negara-negara EMEs (di luar China), yaitu tumbuh sekitar 6,5 – 7,1 persen periode 2004 – 2007, menurun menjadi 3,8 persen paska pandemi Covid-19 pada tahun 2023, lalu menjadi 3,7 persen tahun 2024, dan diperkirakan stagnan sekitar 3,7 persen tahun 2025 – 2026 (UNCTAD, 2025). 

Mitigasi Risiko Global

Sementara dalam kasus Indonesia, kecenderungannya juga sama, yaitu mengalami pertumbuhan rata-rata 6,0 persen selama periode 2004 – 2007, lalu menurun menjadi 4,5 persen tahun 2009 karena krisis keuangan global. Selanjutnya, dengan kebijakan kontra-siklus yang tepat, pertumbuhan ekonomi nasional kembali naik menjadi sekitar 6,0 persen tahun 2010 – 2013. 

Sejak periode 2014 – 2024, kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mengalami penurunan, yaitu menjadi hanya sekitar 5,0 persen. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 4,9 – 5,1 persen pada tahun 2025 dan 2026. 

Potensi pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 akibat meningkatnya risiko perekonomian global menjalar melalui dua saluran (chanel), yaitu: pertama, jalur pelambatan ekspor yang membuat net export (NX) menurun bahkan berpotensi bernilai negatif. Kedua, jalur  penurunan aliran investasi global yang menyebabkan realisasi investaasi di dalam negeri melambat.

Berdasarkan data GDP dari sisi pengeluaran menunjukkan bahwa kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 1,59 persen dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04 persen pada kuartal III tahun 2025. 

Sementara net export sebagai selisih antara ekspor dan impor berkontribusi sekitar 0,24. Sehingga, secara bersama-sama, investasi dan NX berkontribusi sebesar 1,83 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 

Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk memutus mata rantai pelambatan pertumbuhan ekonomi nasional selama dua dekade terakhir pada tahun 2026? Dalam jangka pendek, melanjutkan paket stimulus fiskal untuk mengabsorbsi tekanan terhadap perekonomian nasional yang bersumber dari perekonomian global.

Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas