Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Keberhasilan Substantif MBG Bukan Soal Jangkauan, Melainkan Dampak Nyata bagi Anak

Program MBG diklaim sukses 99,99 persen, namun keberhasilan substantif baru bisa dinilai dari dampak gizi dan pendidikan anak dalam jangka panjang.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Keberhasilan Substantif MBG Bukan Soal Jangkauan, Melainkan Dampak Nyata bagi Anak
HO/IST/IST
MENU MBG - Foto paket MBG 

Prasetyo Nurhardjanto

Dosen FEB Unika Atma Jaya 

Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia

Saat ini berdomisili di Bekasi

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai tingkat keberhasilan 99,99 persen patut diapresiasi sebagai capaian besar dari sisi pelaksanaan.

Program berskala nasional yang menjangkau jutaan anak sekolah jelas membutuhkan koordinasi, anggaran, dan kapasitas birokrasi yang tidak kecil. 

Dari sudut pandang operasional, fakta bahwa MBG dapat berjalan luas dengan tingkat keluhan yang relatif rendah menunjukkan adanya kemajuan penting dalam tata kelola program sosial.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, menyamakan jangkauan dengan keberhasilan berisiko menyesatkan arah evaluasi kebijakan. Jangkauan hanya menjawab pertanyaan “apakah program dijalankan?”, bukan “apakah tujuan program tercapai?”.

Dalam konteks MBG, distribusi makanan yang masif adalah prasyarat, tetapi bukan tujuan akhir. Keberhasilan sejati harus diukur dari perubahan kondisi anak-anak yang menjadi sasaran utama program.

Indikator Dampak Jangka Panjang

Tujuan utama MBG adalah memperbaiki status gizi anak sekolah agar berdampak pada kesehatan, kemampuan belajar, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Karena itu, indikator keberhasilan seharusnya mencakup peningkatan nilai akademik, penurunan angka stunting dan anemia, membaiknya daya konsentrasi dan kehadiran siswa, serta turunnya risiko penyakit terkait gizi buruk pada anak usia sekolah.

Indikator-indikator tersebut tidak mungkin dievaluasi dalam jangka pendek. Dampak gizi terhadap perkembangan kognitif dan kesehatan membutuhkan waktu untuk terakumulasi.

Oleh sebab itu, keberhasilan MBG baru dapat dinilai secara objektif minimal lima tahun ke depan, dengan menggunakan data statistik lintas kementerian.

Kementerian Pendidikan dapat mengukur tren hasil belajar dan partisipasi sekolah, Kementerian Kesehatan menilai status gizi dan kesehatan anak, sementara Kementerian Ketenagakerjaan dalam jangka lebih panjang dapat melihat pengaruhnya terhadap kualitas tenaga kerja muda.

Tanpa kerangka evaluasi berbasis dampak jangka panjang, klaim keberhasilan berisiko berhenti pada laporan administratif dan seremonial. Padahal, tujuan strategis MBG adalah investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar program bantuan konsumsi harian.

Mengukur Keberhasilan Proyek Publik

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas