Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

‘Sayap Garuda’, Kritik Sosial atas Kasus Bullying di Sekolah

Film Sayap Garuda angkat isu bullying di sekolah, kampanye stop kekerasan demi pendidikan aman dan humanis.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in ‘Sayap Garuda’, Kritik Sosial atas Kasus Bullying di Sekolah
HO/IST
FILM SAYAP GARUDA - Aktor lintas generasi bersama siswa tampil di film “Sayap Garuda”, kampanye anti-bullying demi sekolah aman. 

Tarmizi Abka 

Sutradara 

Dikenal lewat karya-karyanya yang kerap mengangkat isu sosial, pendidikan, dan budaya.

Karya-Karya:

Kalam Kalam Langit (2016) – film religi yang tayang hingga Malaysia.

Kartu Pos Wini (2023) – film drama dengan nuansa novel.

Bisikan Gaib (2019) – film horor.

Rekomendasi Untuk Anda

Senyum Merah Putih – film bertema nasionalisme.

Maraknya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah yang kian mengkhawatirkan mendorong untuk bersuara melalui karya layar lebar.

Keresahan tersebut ia tuangkan dalam film terbarunya berjudul “Sayap Garuda”, yang mengangkat isu bullying sebagai persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia.

Film ini diproduksi bekerja sama dengan Sekolah SUKMA di bawah bendera TRAZZ PICTURES, dengan Malang Raya dipilih sebagai lokasi utama pengambilan gambar.

“Sayap Garuda” bukan sekadar tontonan hiburan, melainkan medium edukasi dan refleksi sosial yang menyoroti dampak psikologis perundungan terhadap generasi muda.

Film ini lahir dari keprihatinan saya melihat semakin banyaknya kasus kekerasan di sekolah. Dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar.

Untuk memperkuat pesan cerita, saya menggandeng sejumlah aktor nasional lintas generasi. Yama Carlos dan August Melasz dipercaya menghadirkan kedalaman emosional, sementara Zahwa Malabar serta pendatang baru Enrique Christian Raharja mewakili suara generasi muda yang menjadi korban sekaligus penyintas perundungan.

Melalui pendekatan dramatik yang realistis, film ini menggambarkan bagaimana bullying tidak hanya melukai fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mental jangka panjang.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas