Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Makan Bergizi Gratis dan Persepsi Generasi Z: Antara Manfaat dan Skeptisisme

Di satu sisi, program ini dipandang sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin hak dasar atas pangan dan gizi

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Makan Bergizi Gratis dan Persepsi Generasi Z: Antara Manfaat dan Skeptisisme
Tribunnews.com/dok pribadi
Sultan Ghifari Tanjung , analis kebijakan publik dan sistem kesehatan yang berfokus pada nutrisi, pengembangan SDM dan ekonomi kesehatan negara berkembang 

Sultan Ghifari Tanjung 

  • Penerima beasiswa penuh (full scholarship) di Sekolah Tinggi Perikanan untuk menempuh pendidikan Sarjana (S1).
  • Pernah mengikuti program magang think-tank Shin Kawasaki, Jepang, yang berfokus pada kebijakan publik serta revitalisasi dan inovasi industri.
  • Peserta Japan Internship Fellowship on Public Policy.
  • Penerima beasiswa penuh pelatihan Bahasa Jepang level N1.
  • Pendiri Gerakan Dakwah Kebangsaan, sebuah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada penguatan dan pengembangan generasi masa depan Indonesia.

 

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang sebagai salah satu intervensi sosial terbesar pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Dengan sasaran utama pelajar dan kelompok usia muda, MBG langsung bersinggungan dengan Generasi Z, yang bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga aktor kritis dalam membentuk opini publik.

Respons Gen Z terhadap MBG tidak sepenuhnya seragam.

Di satu sisi, program ini dipandang sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjamin hak dasar atas pangan dan gizi.

Bagi sebagian Gen Z, terutama yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah dan menengah, MBG dianggap kebijakan inklusif dan relevan.

Rekomendasi Untuk Anda

Biaya hidup yang meningkat, tekanan ekonomi keluarga, serta ketimpangan akses pangan sehat membuat makan gratis di sekolah dan institusi pendidikan terasa sangat penting.

Baca juga: Pembagian MBG di Nguter Jadi Momen Berbagi Tips Makanan Bergizi

Data Riskesdas menunjukkan masalah anemia pada remaja masih tinggi, khususnya pada perempuan.

Dalam konteks ini, MBG berpotensi menjadi solusi nyata untuk meningkatkan asupan zat besi dan protein, sekaligus mendukung konsentrasi belajar dan kesehatan jangka panjang namun penerimaan MBG tidak lepas dari kritik. 

Kekhawatiran utama muncul terkait kualitas dan standar gizi.

Kesadaran tinggi Gen Z terhadap kesehatan, keamanan pangan, dan keberlanjutan membuat mereka mempertanyakan apakah MBG benar-benar memenuhi standar gizi seimbang.

Selain itu, aspek autonomi dan preferensi pribadi turut menjadi sorotan.

Gen Z cenderung menolak kebijakan seragam yang minim pilihan, termasuk soal diet, alergi, atau gaya hidup sehat.

Ketidakpercayaan terhadap implementasi program pemerintah sebelumnya juga membentuk sikap skeptis.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas