Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Membaca Utuh Traktat Keamanan Bersama Indonesia dan Australia

Indonesia-Australia teken traktat keamanan bersama, perkuat pertahanan kawasan di tengah tensi geopolitik global.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Membaca Utuh Traktat Keamanan Bersama Indonesia dan Australia
Tribunnews.com/Taufik Ismail
AUSTRALIA INDONESIA - Indonesia-Australia teken traktat keamanan bersama, perkuat pertahanan kawasan di tengah tensi geopolitik global. 

Efek tersebut masih sangat terasa di Australia, bahkan hingga hari ini. Teranyar, pada Desember 2025 lalu, terjadi penembakan di Pantai Bondi, Sysdney, yang menewaskan sedikitnya 16 orang. Disinyalir pelaku penembakan adalah individu penganut anti-semitisme-anti Yahudi dan Israel.

Urgensi Indonesia bagi Australia

Dengan melakukan pemetaan terhadap ancaman-ancaman yang bersifat kontemporer tersebut, Australia menilai Indonesia sebagai mitra yang kuat dan paling strategis di kawasan.

Australia juga menilai bahwa Indonesia adalah mitra penting dan konvensional, yang mana kerja sama keduanya telah terentang panjang sejak kedua negara bersepakat dalam Agreement on Maintaining Security 1995 dan Perjajian Lombok pada 2005.

Selain itu, Indonesia memiliki garis merah kepentingan nasional yang sama dengan Australia di bidang pertahanan dan keamanan. 

Intervensi Tiongkok di kawasan tidak hanya menjadi ancaman bagi Australia, tapi juga bagi Indonesia secara eksisting karena sering berulangnya pelanggaran hak berdaulat oleh kapal-kapal nelayan Tiongkok di Laut Natuna Utara yang notabene merupakan ZEE Indonesia. Persepsi dan respons diplomatik Indonesia terhadap Tiongkok akan mempengaruhi tinggi rendahnya derajat ancaman yang diterima oleh Australia dari Tiongkok.

Di sisi lain, Indonesia juga secara samar menjadi ladang rivalitas antara Tiongkok dan AS dari sisi perdagangan-yang saat ini lebih didominasi oleh Tiongkok. Kepentingan untuk pengendalian terorisme dan radikalisme tampaknya menjadi bagan paling penting dari bangunan utuh kepentingan nasional Australia terhadap

Indonesia. Konsistensi dan soliditas Indonesia dalam melakukan pemberantasan terorisme akan selalu masuk dalam radar dan pengamatan Australia. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia dapat dikatakan berhasil dalam meredam gerakan-gerakan teror yang tidak hanya muncul dari level domestik Indonesia seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), tapi juga gerakan-gerakan teroris yang sifatnya pantulan (bouncing) dari negara-negara jiran seperti gerakan Dr. Azahari dan Noodin M. Top dari Malaysia.

Rekomendasi Untuk Anda

Indonesia melalui ekosistem pertahanan dan keamanannya berhasil mengembangkan model kontra-radikalisme dan deradikalisasi secara solid dalam pencegahan dan pemberantasan terorisme.

Membangun sinergi dan kolaborasi secara strategis dengan Indonesia juga diyakini Australia dapat membendung aksi-aksi radikal antisemitisme yang kian marak di Australia. Komitmen penuh Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina yang diwujudkan melalui komitmen nyata di segala bidang mulai dari bantuan kemanusiaan, pendirian rumah sakit, dan pertukaran mahasiswa dapat menjadi daya tangkal bagi Australia dari gerakan-gerakan kaum radikal anti-zionis.

Lebih jauh, dari perspektif Australia, Indonesia adalah cermin nyata negara mayoritas Muslim yang mampu menerapkan demokrasi secara santun dan moderat yang didukung oleh aspirasi domestik rakyatnya dan kehati-hatian dalam praktik diplomasi dipanggung internasional.

Catatan bagi Indonesia

Bagi Indonesia sendiri, traktat keamanan bersama yang ditandatangani oleh kedua kepala negara merupakan suatu sikap yang patut diapresiasi. Kesepakatan ini harus dibaca sebagai sebuah instrumen yang bersifat mutualis dan kontributif bagi pencapaian kepentingan nasional Indonesia.

Sentimen AS yang kian menguat terhadap Indonesia karena kedekatan dengan Tiongkok yang kian intens melalui kerja sama perdagangan dapat diredam melalui kerja sama strategis dengan Australia.

Kerja sama pertahanan yang kian menguat dengan Australia juga secara tidak langsung menjadi pesan bagi Tiongkok untuk tidak terus melakukan drama pelanggaran hak berdaulat di Laut Natuna Utara, sekaligus menjadi bargaining power dalam negosiasi ke depan di bidang perdagangan.

Selain itu, secara bilateral Indonesia perlu memanfaatkan kesepakatan strategis ini untuk memperkuat aspek pengadaan dan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), investasi di sektor industri strategis pertahanan nasional berbasis maritim, serta pertukaran data intelijen.

Yang harus digarisbawahi oleh Indonesia, setiap kerja sama harus diiringi oleh mode kewaspadaan nasional yang tinggi untuk meminimalisir dampak negatif yang potensial muncul ke depan. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas