Panggilan Menjaga Kedaulatan Rakyat
Refleksi demokrasi Indonesia: partisipasi rakyat, pemilu jujur, dan kedaulatan setara harus dijaga agar republik tak rapuh.
Editor:
Glery Lazuardi
Quo vadis demokrasi Indonesia? Jika kita setia pada jalan yang digariskan para pendiri bangsa seperti Yamin, maka pemilu tidak boleh dibiarkan menjadi pasar gelap kekuasaan.
Demokrasi harus tetap menjadi perayaan kedaulatan rakyat yang tegak di atas fundamen hukum yang adil. Sudah saatnya bangsa Indonesia tidak hanya sibuk menghitung suara, tapi juga memastikan bahwa dalam setiap suara itu, ada martabat manusia yang dihargai setara. Jika pemilu hanya menjadi ajang bagi mereka yang memiliki sepatu pegas berupa logistik melimpah, maka janji kesetaraan dalam konstitusi republik Indonesia barulah sebatas aksara mati.
Akhirulkalam, demokrasi bukanlah proyek jangka panjang untuk mengamankan kekuasaan, melainkan amanah sementara yang harus terus diuji oleh rakyat. Republik yang sehat membutuhkan jeda untuk refleksi, keberanian untuk mengkritik, dan kerelaan untuk melepaskan kekuasaan saat mandatnya berakhir.
Jangan sampai rumah kaca demokrasi Indonesia pecah berkeping karena terlalu sibuk memoles tampilan luarnya, sementara fondasinya sudah keropos. Di sinilah letak poin penting kita sebagai anak bangsa agar tetap menjaga kedaulatan rakyat.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.