Transformasi Pesantren Ala KH Wahid Hasyim dan Masa Depannya
BULAN Ramadan setiap tahun selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren.
Editor:
Dodi Esvandi
Secara penampilan, santri Madrasah Nidzamiyah tetap bersarung dan berkopiah. Namun yang terpenting, mereka lebih disiplin dalam mengeksplorasi ilmu dan kaya literasi melalui kitab kuning, buku, majalah, hingga surat kabar dari berbagai bahasa.
Lambat laun, Tebuireng mulai mengakomodasi materi pelajaran umum dalam sistem Madrasah Salafiyah namun tetap mempertahankan sistem lama seperti bandongan, sorogan, wetonan, dan munadharah. Tebuireng pun menjadi model (kiblat) bagi banyak pesantren dalam mengembangkan sistem pendidikan.
Baca juga: Pesantren Darul Falah Ponorogo Siapkan Santri untuk Era Digital
Pelajaran dari Transformasi Gus Wahid
Langkah berani Gus Wahid menandai perubahan orientasi pesantren tanpa menggeser dasar ideologinya. Dari aspek kurikulum, ia menghindari dikotomi antara ilmu agama dan umum, melainkan membuatnya saling melengkapi.
Ketika menjabat sebagai Menteri Agama RI, Gus Wahid mengintegrasikan gagasan ini melalui kebijakan pemerintah, sehingga pesantren dan madrasah berada di bawah naungan Kementerian Agama. Dampaknya terasa hingga saat ini; mayoritas pesantren mengelola empat jenis pendidikan: fokus tafaffuh fi al-din, madrasah, sekolah umum, dan keterampilan/vokasi.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah menganalisa bahwa universitas besar di Barat bermula dari perguruan berorientasi keagamaan. Ia menyadari, “Mungkin saja, seandainya kita tidak dijajah, pesantren-pesantren itu akan tumbuh sebagaimana universitas-universitas tersebut.”
Masa Depan Transformasi Pesantren
Lahirnya UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren memberikan pengakuan dan jaminan kemandirian dari pemerintah. Namun, tantangan teknologi digital dan dinamika sosial menuntut pesantren untuk terus memperkuat literasi agar mampu mengelola peluang masa depan.
Beberapa rekomendasi untuk masa depan pesantren antara lain:
- Hati-hati dan Terkoordinasi: Transformasi harus dilakukan tanpa merusak karakteristik, kepribadian, dan sanad keilmuan.
- Peran Nahdlatul Ulama: Sebagai "akar", NU harus menjadikan pesantren sebagai fokus utama kebijakan. NU perlu merumuskan roadmap transformasi secara holistik agar tidak cacat secara akidah dan ideologi.
- Kemandirian Ekonomi dan Kesehatan: Terobosan tidak boleh hanya berhenti di kurikulum, tapi juga menyentuh aspek kesejahteraan dan fasilitas kesehatan pesantren.
Transformasi pesantren adalah keniscayaan, namun ia harus tetap berpijak pada nilai-nilai salafus sholihin agar ruh jihad dan pengabdiannya tidak hilang ditelan zaman.
////////////////
Profil Penulis:
- Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
- Katib PBNU (2015-2018).
- Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (2018-2023).
- Ketua Yayasan GPSI (Gerak Pengabdian Santri Indonesia).
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.