Anti A Contrario, Terbolak-Balik, dan Paradoks Prabowo
Fenomena politik hukum Indonesia kian terbolak-balik, lahir teori baru anti a contrario untuk memahami logika jungkir balik kekuasaan.
Editor:
Glery Lazuardi

“Dan Janganlah kamu mencampuradukkan (membolak-balikan) kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran itu, sedang kamu mengetahui”. (Al Baqarah 2:42)
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun terbolak-balik penuh tipu daya; orang-orang pendusta dianggap jujur, orang jujur dianggap pendusta; pengkhianat dipercaya (diberi amanah) dan orang-orang terpercaya dianggap pengkhianat”. (HR. Ahmad dan Ibn Majah)
Dunia sedang dibolak-balik. Logika sedang diutak-atik. Otak terus dipaksa berakrobatik.
Indonesia sebaiknya berhati-hati tidak terjebak pada logika abnormal, yang membawa pada krisis ekonomi, hukum dan politik.
Dalam kondisi demikian, izinkan saya menuliskan teori baru. Mumpung bergelar profesor, bukan beli, apalagi palsu. Syahdan, kalau profesor, bisa bikin teori baru.
Dalam ilmu hukum, salah satu metode interpretasi adalah a contrario.
Artinya, pemaknaan secara berkebalikan. Masalahnya, melihat perkembangan logika akrobatik yang sekarang marak terjadi di Indonesia, pemaknaan a contrario saja tidak cukup.
Maka, saya berinisiatif membuat teori baru, yaitu pemaknaan anti a contrario, interpretasi terbolak-balik, pemaknaan jungkir balik.
Konsep baru itu diilhami oleh novel distopia klasik berjudul “Nineteen Eighty-Four” karya George Orwell (1949), yang menggambarkan masyarakat totalitarian di Oceania di bawah pengawasan ketat “Big Brother” dan Partai.
George adalah penulis dan jurnalis yang seringkali mengkritik politik Inggris dengan karya-karyanya tentang kekuasaan, propaganda, dan bahaya totalitarianisme. Saking tajam kritiknya, dia menutupi nama aslinya, Eric Arthur Blair.
Tokoh utama dalam novel 1984 itu adalah Winston Smith, yang berhasil memanipulasi sejarah di Kementerian Kebenaran, sambil diam-diam memberontak melawan kontrol pikiran, pengawasan (telescreen), dan penindasan Partai.
Di dalam novelnya, George Orwell menggunakan konsep “doublethink” alias politik propaganda. Cara berkomunikasi yang menjungkirbalikkan logika. Strategi disinformasi yang sering digunakan untuk mengacaukan informasi dalam peperangan, guna menyesatkan lawan dan penonton perang.
Contoh beberapa doublethink alias politik propaganda dalam novel itu adalah: “War is peace”, perang adalah perdamaian. “Freedom is Slavery”, kemerdekaan adalah perbudakan. “Ignorance is Strength”, ketidaktahuan adalah kekuatan.
Jika pemaknaan a contrario atau berkebalikan masihlah normal-sehat. Maka, interpretasi anti a contrario alias terbolak-balik sudahlah abnormal, tidak lagi waras.
Contoh pemaknaan normal berkebalikan dalam konteks ekonomi adalah, ketika baru-baru ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikutip mengatakan, “Harga minyak ke 92 dollar AS masih aman, defisit APBN bisa dikendalikan”. Pemaknaan a contrario-nya adalah, jika harga minyak lebih dari 92 dollar, maka tidak aman, dan APBN tidak bisa lagi dikendalikan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.