ZIS: Jalan Sosial Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia
Zakat, infak dan sedekah (ZIS) merupakan bagian dari syariah Islam yang secara langsung mendorong terwujudnya pembangunan secara menyeluruh.
Editor:
Choirul Arifin

PEMBANGUNAN sumber daya manusia (SDM) berkualitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia karena Ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, dan kesenjangan sosial masih terjadi berbagai daerah.
Dalam konteks inilah zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sesungguhnya memiliki potensi besar sebagai instrumen pembangunan masyarakat. Zakat, infak dan sedekah (ZIS) merupakan bagian dari syariah Islam yang secara langsung mendorong terwujudnya pembangunan secara menyeluruh.
Mulai dari membangun aspek fisik, seperti masjid, madrasah, sumber air bersih, hingga pembangunan manusia melalui program dakwah dan pendidikan. Dalam perjalanan Laznas BMH, program dakwah telah memberi kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat pedalaman bahkan suku terasing seperti di Halmahera, Maluku Utara.
Program dakwah menjadikan sebagian anak suku terasing di Suku Togutil tertarik mempelajari Islam lebih dalam. Ia pun mendapat beasiswa dari dana zakat, infak dan sedekah umat. Sewindu kemudian ia menyelesaikan pendidikannya.
Pada Ramadhan 1447 Hijriah ini dia kembali ke sukunya, menjadi dai yang mencerahkan komunitasnya sendiri. Fakta seperti ini mungkin tampak biasa, tapi itu bukan hal yang benar-benar biasa.
Oleh karena itu tepat sekali kalau kita memandang ZIS dapat menjadi alternatif solusi dalam membangun masyarakat. Secara empiris, banyak kegagalan pembangunan terjadi karena kekayaan terkonsentrasi pada sedikit orang. ZIS menjadi instrumen yang memungkinkan redistribusi kekayaan mendorong kebahagiaan bagi semua.
Lahirnya dai dari komunitas terpencil seperti ini menunjukkan bagaimana ZIS dapat membuka jalan perubahan sosial yang sebelumnya sulit dibayangkan.
ZIS Membangun Manusia
Zakat, infak dan sedekah sering dipahami sekadar sebagai aktivitas charity (belas kasihan). Padahal dalam Islam zakat, infak dan sedekah bisa mendorong pembangunan kapasitas manusia. Satu fakta dari suku terasing di Halmahera menjadi satu bukti terkini.
Meski skalanya tidak selalu besar, gerakan ZIS telah menciptakan arus perubahan yang nyata. ZIS dari umat telah menggerakkan pendidikan melalui beasiswa, penguatan ekonomi keluarga melalui pemberdayaan ekonomi. Serta penguatan pendidikan masyarakat dengan pembinaan dan upgrading dai.
Baca juga: Forum Zakat: Potensi Zakat Indonesia Rp327 Triliun, Baru Terealisasi Rp44 Triliun
Dai adalah sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun masyarakat. Mereka rela memilih meninggalkan kenyamanan hidup di perkotaan untuk menebar cahaya ke berbagai titik di pedalaman, kepulauan dan tapal batas negeri.
Seorang dai asal Pemalang, Jawa Tengah, yang telah memperoleh gelar sarjana dari sebuah institusi Pendidikan Tinggi di Surabaya memberikan pengakuan mengapa ia rela hidup masuk ke hutan-hutan pedalaman Halmahera.
"Di sini hidup saya bisa memberi arti. Setiap ada orang yang tersentuh hidayah dan bersyahadat, saya merasakan saya memiliki makna bagi sesama di sini," jelasnya.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan