Mimpi 100 Gigawatt Surya Indonesia, Dari Listrik Matahari Menuju Ekonomi Hidrogen
Bayangkan sebuah negara tropis yang setiap hari disinari matahari sepanjang tahun mampu menghasilkan listrik dari tenaga surya dalam skala raksasa
Editor:
Dodi Esvandi
BAYANGKAN sebuah negara tropis yang setiap hari disinari matahari sepanjang tahun mampu menghasilkan listrik dari tenaga surya dalam skala raksasa.
Jika Indonesia benar-benar membangun 100 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kapasitas tersebut akan menempatkan Indonesia di antara sistem tenaga surya terbesar di dunia.
Lebih dari sekadar proyek kelistrikan, langkah ini berpotensi mengubah posisi Indonesia dalam peta energi global -dari negara konsumen energi menjadi produsen energi bersih berbasis listrik dan hidrogen.
Komitmen percepatan transisi energi nasional semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi.
Fokus utama kebijakan ini adalah mempercepat pengembangan energi terbarukan serta mendorong elektrifikasi berbagai sektor ekonomi.
Salah satu gagasan ambisius yang mulai mengemuka adalah pembangunan PLTS hingga sekitar 100 gigawatt kapasitas terpasang dalam beberapa tahun ke depan.
Program ini diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan energi surya sebagai tulang punggung sistem listrik masa depan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis bahan bakar fosil, terutama diesel yang masih banyak digunakan di berbagai wilayah Indonesia.
Di antara berbagai sumber energi terbarukan, tenaga surya muncul sebagai kandidat paling menjanjikan.
Potensi energi surya Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 gigawatt, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia.
Artinya, pembangunan PLTS hingga 100 gigawatt sebenarnya baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensi yang tersedia.
Dengan asumsi faktor kapasitas sekitar 18–20 persen, sistem PLTS sebesar itu dapat menghasilkan sekitar 170 hingga 180 terawatt jam listrik setiap tahun.
Produksi listrik dalam skala ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan porsi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis bahan bakar fosil, terutama diesel yang masih banyak digunakan di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Kurangi Ketergantungan Energi Fosil, Presiden Dorong Pembangunan PLTS 100 GW
Namun listrik dari matahari memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pembangkit konvensional.
Produksinya sangat bergantung pada intensitas sinar matahari dan umumnya terjadi pada siang hari.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan