Nyanyi Sunyi Matinya Pelaut Indonesia di Selat Hormuz
Sudah sebulan 3 pelaut Indonesia tewas di Selat Hormuz. Kabar ini tenggelam di balik gegap gempita amarah banyak pihak pasca kematian 3 serdadu TNI
Editor:
Dodi Esvandi
Oleh: Algooth Putranto
Director of Community Evident Institute
Sudah sebulan tiga pelaut Indonesia tewas di Selat Hormuz.
Kabar tragis ini tenggelam di balik gegap gempita amarah banyak pihak pasca kematian tiga serdadu TNI yang bertugas sebagai bagian Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon.
Jadi pada 6 Maret 2026, para pelaut kita meregang nyawa ketika dua rudal menghantam kapal tunda (tugboat) Musaffah 2.
Kapal berbendera Uni Emirat Arab (UEA) yang mereka awaki meledak dan tenggelam di perairan di antara UEA dan Oman.
Benar menjadi fakta bahwa representasi kita di UEA dan Oman yakni KBRI di Abu Dhabi dan KBRI Muscat langsung berkoordinasi secara intensif dengan otoritas setempat untuk mengawal proses pencarian ketiga WNI tersebut.
Mereka bahu membahu melakukan evakuasi dan repatriasi atau pemulangan jenazah pelaut Indonesia.
Sisanya, nasib sial pelaut itu sayup di tengah hiruk pikuk konflik yang sedang terjadi.
Tentu saja, jangan tanyakan atensi yang diberikan negara ini pada tiga pelaut sial tersebut.
Justru terasa sunyi! Tragedi ini bahkan tidak dibahas sebagai sesuatu yang penting oleh Duta Besar Umar Hadi yang menjadi representasi kita di Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).
Kematian sipil Indonesia seperti yang sudah-sudah ya serupa kaset kusut diputar ulang.
Sekadar mengingatkan peristiwa kematian 12 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam tragedi penembakan pesawat Malaysia Airlines MH-17 oleh milisi yang didukung Rusia di wilayah udara Ukraina pada 17 Juli 2014.
Seperti kita tahu, sejarah mencatat Indonesia yang sebelumnya bisa bersikap garang pada Australia karena skandal penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru memilih bersikap manis pada Rusia.
Nah dalam peristiwa kematian tiga pelaut Indonesia di Hormuz, wajah Indonesia sungguhlah cantik lewat bahasa diplomatis yang sopan di Sidang Luar Biasa Dewan International Maritime Organization (IMO) ke-36 yang diselenggarakan pada 18–19 Maret 2026 di London, Inggris.
Hasilnya, yah bolehlah dijadikan catatan sejarah diplomasi maritim bahwa Indonesia, sebagai anggota Dewan International Maritime Organization (IMO) Kategori C berhasil mendorong disepakatinya Council Declaration di kegiatan tersebut.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan