Fajar Baru Nahdlatul Ulama: Menguji Kiai Muda Berbasis Pesantren Progresif
Muktamar NU ke-35 2026 diwarnai arus bawah kiai muda, membawa energi baru kepemimpinan dan transformasi jam’iyah
Editor:
Glery Lazuardi
Perannya sebagai Staf Khusus Presiden RI selama beberapa tahun memberikan beliau perspektif makro mengenai bagaimana kebijakan publik berinteraksi dengan realitas sosial. Selain itu, Gus Rozin kini pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, dan mewarisi genetika intelektual dan spiritual dari KH. MA. Sahal Mahfudh. Namun, Gus Rozin tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
Skema Bisa Saling Melengkapi
Jika keempat kiai muda ini saling melengkapi, mereka membentuk "paket komplit" yang sulit ditandingi. Gus Salam dan Gus Yusuf mengunci basis kultural dan sejarah. Kiai Imam Jazuli membawa ide-ide inovatif untuk profesionalisasi manajemen NU dan kemandirian ekonomi, didukung oleh Gus Rozin yang ahli strategi dan berwawasan serta berkomunikasi secara internasional.
Keempatnya memiliki basis pendukung rill, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan arus politik praktis sesaat. Peluang figur-figur muda ini sangat besar jika NU menyadari pentingnya regeneration. Pertama, kelelahan warga NU atas konflik kepengurusan struktural yang membuat organisasi tidak fokus pada penguatan basis.
Lalu kedua, tuntutan pesantren agar pemimpin NU lebih relatable dengan kebutuhan pesantren transformatif (transformasi kurikulum dan manajerial). Dan, ketiga, kebutuhan akan sosok yang berani mengambil risiko untuk mengembalikan PKB sebagai alat politik sah NU, namun tetap menjaga jarak sehat agar NU tidak sekadar menjadi stempel politik.
Kehadiran keempat Gus / kiai muda ini adalah kesempatan bagi muktamar untuk memilih "jalan baru", bukan sekadar memilih siapa, tapi jalan apa yang akan ditempuh NU ke depan. Jika dikelola dengan baik, faksi kiai muda ini akan menjadi energi baru yang membawa NU lebih transformatif, profesional, dan berwibawa di kancah global. Wallahu'alam bishawab.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan