Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Belajar dari Masyarakat Asmat, Kendaraan Listrik Lebih Mendesak bagi Daerah Krisis BBM

Masyarakat di Kabupaten Asmat sudah memberikan contoh, ketika menghadapi kesulitan mendapatkan BBM, kendaraan listrik sebagai solusi bermobilitas.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Belajar dari Masyarakat Asmat, Kendaraan Listrik Lebih Mendesak bagi Daerah Krisis BBM
Tribunnews.com/dok.
JADI SOLUSI MOBILITAS - Kendaraan listrik menjadi solusi bermobilitas bagi sebagian warga di Kabupaten Asmat, Papua, ketika menghadapi kesulitan mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM). 

Pada 2018, setidaknya terdapat 1.280 motor listrik yang digunakan oleh penduduk Agats. Jumlahnya kini bertambah menjadi lebih kurang 4.000 unit kendaraan listrik.

Menariknya, motor listrik di distrik dikategorikan sebagai sepeda. Penggunaan pelat nomor hanya sebagai penanda pengganti stiker retribusi, sehingga para pemiliknya tidak memiliki STNK atau SIM dan tidak dikenakan pajak kendaraan.

Kota Agats adalah kota tanpa lampu pengatur lalu lintas, tetapi sangat minim kecelakaan lalu lintas. Tidak ada stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) dan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), meskipun mayoritas menggunakan motor listrik. Nyaris tidak ada polisi lalu lintas yang bertugas.

Selain itu, ojek listrik juga menggeliat di Agats yang bahkan dilindungi kebijakan, seperti Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum.

Selain itu, ada juga Perda Nomor 7 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha dan Peraturan Bupati Nomor 24 Tahun 2017 tentang Angkutan Darat dan Sungai.

Data Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat menyebutkan, terdapat 22 pangkalan ojek listrik. Ojek yang beroperasi di Kota Agats menggunakan pelat kendaraan berwarna kuning.

Regulasi itu, mengatur retribusi kendaraan bermotor listrik (ojek) yang disewakan sebesar Rp 500.000 per tahun, retribusi kendaraan bermotor listrik pribadi Rp 150.000 per tahun, dan sewa lahan untuk ojek Rp 1 juta per tahun.

Rekomendasi Untuk Anda

Transformasi di ujung timur Indonesia ini memberikan pelajaran berharga bagi peta jalan transportasi nasional.

Jika sebuah wilayah dengan tantangan geografis yang kompleks mampu melepaskan diri dari ketergantungan BBM, maka adopsi kendaraan listrik di wilayah lain bukanlah hal yang mustahil untuk mewujudkan kedaulatan energi Indonesia.

 

Halaman 3/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas