Menyusuri Jejak Sang “Universitas Berjalan” di Thaif
Thaif dikenal sebagai kota sejuk di pegunungan, tempat kebun-kebun anggur tumbuh subur di tengah jazirah yang keras.
Editor:
Suut Amdani

(Dari Makam Abdullah bin Abbas, Saya Belajar tentang Kerendahan Hati Seorang Raksasa Ilmu)
Saya merasa sangat beruntung mendapat kesempatan diajak berkunjung ke kota Taif oleh AMPHURI (Asosiasi Muslim Pengusaha Haji dan Umrah Republik Indonesia) di sela perjalanan haji.
Bagi banyak jamaah, Thaif dikenal sebagai kota sejuk di pegunungan, tempat kebun-kebun anggur tumbuh subur di tengah jazirah yang keras.
Tetapi bagi pecinta sejarah Islam, Thaif menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: jejak perjuangan Rasulullah SAW dan warisan keilmuan salah satu ulama terbesar generasi sahabat.
Di kota inilah kami mengunjungi Masjid Abdullah bin Abbas — kawasan yang juga dikenal sebagai tempat dimakamkannya Abdullah bin Abbas.
Awalnya saya mengira ini sekadar salah satu situs ziarah biasa.
Ternyata tidak.
Di tempat inilah saya justru merasa seperti sedang “bertemu” dengan salah satu otak terbesar dalam sejarah peradaban Islam.
Abdullah bin Abbas — sering disingkat Ibnu Abbas — adalah sepupu Rasulullah SAW. Tetapi beliau bukan terkenal karena hubungan keluarganya semata.
Beliau dikenal dengan gelar:
Tarjuman al-Qur’an
“Penafsir Agung Al-Qur’an.”
Yang membuat saya sangat terkesan adalah kenyataan bahwa saat Rasulullah wafat, usia Ibnu Abbas masih sangat muda. Kira-kira baru belasan tahun.
Sebagai seorang dosen, saya langsung membayangkan: betapa luar biasanya seorang “mahasiswa muda” yang mendapat bimbingan langsung dari Guru Agung seperti Rasulullah SAW.
Tetapi ternyata kehebatan Ibnu Abbas tidak berhenti di sana.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.