Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ā—

Tribunners / Citizen Journalism

Prabowo Tak Akan Cawe-Cawe di Muktamar NU, Ini Alasannya

Kecil kemungkinan Presiden akan melakukan intervensi dalam Muktamar NU mendatang karena berkaitan dengan karakter kepemimpinan Prabowo sendiri

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Prabowo Tak Akan Cawe-Cawe di Muktamar NU, Ini Alasannya
Dok. Kemensos
MUKTAMAR NU 2026 - Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat menghadiri acara Buka Bersama Ramadan 1447 Hijriah di Aula KH Hasyim Asy’ari Kantor PWNU Jatim di Surabaya, Minggu (15/3/2026). Dalam acara tersebut, Gus Ipul menyampaikan bahwa organisasi mulai menyiapkan tahapan awal menuju Muktamar NU yang direncanakan digelar pada 2026. 

Dalam perjalanan panjang tersebut, NU berkali-kali menunjukkan kemampuannya menjaga independensi organisasi di tengah berbagai perubahan politik.

Karena itu, tidak mudah bagi pihak luar untuk menentukan arah organisasi ini.

Di dalam NU terdapat jaringan pesantren, para kiai, pengurus wilayah, pengurus cabang, badan otonom, serta jutaan warga Nahdliyin yang memiliki pertimbangan dan dinamika masing-masing.

Seluruh unsur tersebut membentuk kekuatan sosial yang besar dan tidak mudah diarahkan oleh kepentingan eksternal.

Muktamar NU sendiri bukan sekadar forum memilih pemimpin. Muktamar merupakan permusyawaratan tertinggi organisasi yang mempertemukan berbagai aspirasi dari seluruh Indonesia.

Sejarah menunjukkan bahwa hasil Muktamar sering kali sulit diprediksi. Tidak sedikit tokoh yang sebelumnya dianggap unggul justru gagal meraih dukungan mayoritas.Ā 

Baca juga: Gus Ipul jadi Ketua Panitia Muktamar Nahdlatul Ulama 2026

Sebaliknya, figur yang semula tidak terlalu diperhitungkan mampu tampil sebagai pemenang karena berhasil membangun komunikasi yang baik dengan para pemilik suara.

Rekomendasi Untuk Anda

Fakta tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki logika politik internal yang khas. Kedekatan dengan kekuasaan maupun dukungan elite tidak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir yang ditentukan para muktamirin.

Alasan ketiga adalah adanya risiko politik apabila Presiden dianggap terlalu jauh masuk ke dalam kontestasi internal NU.

Sebagai organisasi yang memiliki basis sangat luas, NU terdiri atas beragam pandangan dan aspirasi.

Jika pemerintah dianggap mendukung salah satu kelompok tertentu, hal itu bisa memunculkan persepsi keberpihakan terhadap kelompok lainnya.

Padahal pemerintah membutuhkan hubungan baik dengan seluruh elemen NU.

Selama ini NU menjadi mitra penting negara dalam berbagai agenda kebangsaan, mulai dari pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan moderasi beragama, hingga menjaga persatuan dan kohesi sosial.

Karena itu, menjaga posisi netral justru menjadi pilihan yang lebih rasional dan menguntungkan bagi semua pihak.

Tentu hubungan baik antara Presiden dan para kiai NU akan tetap berjalan.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas