Mengurai Jalan Terjal Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka
Di atas kertas, Profil Pelajar Pancasila terlihat sangat ideal. Enam dimensi yang ditawarkan dinilai telah menunjukkan keseimbangan multi aspek
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha

DALAM Kurikulum Merdeka yang berlaku saat ini di jenjang pendidikan dasar dan menengah, ada satu istilah yang menarik untuk didiskusikan, yakni Profil Pelajar Pancasila (P3).
Istilah tersebut merujuk pada visi mulia nan luhur untuk membentuk pelajar sepanjang hayat dengan penguasaan kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
Kemunculannya didasarkan pada ihtiar Kemendikbud dalam memformulasikan visi pendidikan nasional yang lebih holistik, berorientasi pada pembentukan karakter dan relevansinya dengan tantangan zaman.
Secara konsep, Profil Pelajar Pancasila mencakup enam dimensi yang komplementatif.
Dimulai dari dimensi (i) Beriman, menekankan pada penguatan spiritual dan moralitas, baik secara vertikal maupun horizontal.
Selanjutnya, dimensi (ii) Berkebinekaan Global, menuntut pelajar mempertahankan budaya luhur bangsa namun tetap terbuka dengan budaya lain.
Kemampuan untuk bekerja sama secara sukarela demi mencapai tujuan bersama terwujud dalam dimensi (iii) Bergotong-royong. Kemandirian dalam belajar dan bertanggung jawab atas proses serta hasil belajarnya tercermin dalam dimensi (iv) Mandiri.
Selain itu, pelajar dituntut untuk memproses informasi secara objektif, menganalisis, dan mengevaluasi informasi tersebut melalui dimensi (v) Bernalar Kritis.
Terakhir, (vi) Kreatif, mendorong pelajar untuk menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan yang orisinal, bermanfaat, serta berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
Di atas kertas, Profil Pelajar Pancasila terlihat sangat ideal.
Baca juga: Apa Peran Profil Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran? PMM
Enam dimensi yang ditawarkan dinilai telah menunjukkan keseimbangan antara aspek spiritualitas, sosial, dan kognitif.
Tidak hanya berfokus pada aspek akademik semata, namun juga pada sikap dan religiusitas. Namun dalam penerapannya, apakah berjalan mulus tanpa hambatan? Tentu tidak.
Berbagai tantangan dan kendala juga mengiringi. Ibarat pendakian, Profil Pelajar Pancasila harus menempuh jalan terjal yang tak henti. Menuntut ketahanan, kekuatan, dan ketajaman navigasi untuk mencapai puncak. Implementasinya di lapangan menghadapi berbagai tantangan nyata, mulai dari isu SDM guru, kuatnya paradigm kognitif, infrastruktur, hingga budaya sekolah.
Salah satu isu mendasar tantangan nyata implementasi P5 adalah SDM guru.
Harus diakui, masih banyak guru kesulitan dalam merancang pembelajaran berbasis proyek (P5) yang benar-benar bermakna.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.