Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

ParagonCorp Hadirkan Ruang Refleksi Perempuan di Hari Kartini lewat Women's Space

ParagonCorp menggelar diskusi reflektif bersama lima tokoh perempuan Indonesia sekaligus memperkuat Women's Space di momentum Hari Kartini.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in ParagonCorp Hadirkan Ruang Refleksi Perempuan di Hari Kartini lewat Women's Space
Istimewa
WOMEN'S SPACE - Sejumlah tokoh perempuan Indonesia, seperti Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, dan dr Sari Chairunnisa, hadir dalam sesi diskusi reflektif yang digelar ParagonCorp di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta, Selasa (21/4/2026). Diskusi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini sekaligus penguatan inisiatif Women's Space. 

TRIBUNNEWS.COM - ParagonCorp sebagai Purposeful Beauty Tech Company asal Indonesia menggelar sesi diskusi bertajuk "Her Strength, Her Light: A Journey through Doubt, Growth, and Becoming" di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Kegiatan tersebut digelar dalam momentum Hari Kartini sekaligus memperkuat komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan perempuan melalui pengembangan inisiatif women's space.

Sesi diskusi itu menghadirkan sejumlah tokoh perempuan dari berbagai bidang, yakni Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, serta dr Sari Chairunnisa.

Diskusi reflektif tersebut dipandu oleh Marissa Anita dengan fokus pada kekuatan yang terbentuk dari perjalanan hidup masing-masing narasumber.

Perjalanan, Keraguan, dan Kekuatan Perempuan

Mengangkat narasi "menemukan kekuatan di balik rasa belum cukup", ParagonCorp menyoroti fenomena yang kerap dialami banyak perempuan. Keinginan untuk berkembang kerap kali berbenturan dengan keraguan diri yang menahan langkah mereka.

Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp dr Sari Chairunnisa mengatakan, sejumlah studi menunjukkan mayoritas perempuan memiliki motivasi untuk berkembang, tetapi tidak semuanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup untuk melangkah.

Salah satunya, tecermin dari riset Mestara 2025 yang menemukan bahwa 83 persen perempuan ingin berkembang, tetapi hanya sekitar 30 persen yang merasa cukup percaya diri untuk mengambil langkah tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Sari menambahkan, perempuan sering kali tampak tenang dan mampu di permukaan, tetapi menyimpan pertanyaan tentang kecukupan diri di dalamnya.

Ia mengaku. pernah berada di titik yang sama dan belajar bahwa keraguan bukan hal yang harus dihilangkan.

"Keraguan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dihadapi dan justru dari situlah kita bertumbuh sekaligus tetap rendah hati," ujar Sari dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Selasa (21/4/2026).

Terinspirasi dari kisah BJ Habibie dan Hasri Ainun Besari, sesi ini turut menekankan pentingnya dukungan dan relasi dalam perjalanan perempuan. Pesan tersebut kemudian menggema dalam cerita yang dibagikan para narasumber.

Retno Marsudi menuturkan, pertanyaan seputar kecukupan diri kerap muncul di benak perempuan. Namun, baginya, justru dari titik itu semangat untuk tumbuh menemukan pijakannya.

"Pertanyaan saya sudah cukup belum ya atau saya masih bisa lebih maju nggak ya? Sering muncul di benak kita sebagai perempuan. Namun, bagi saya, justru saat pertanyaan itu hadir, di situlah semangat saya tumbuh," ungkap Retno.

Senada dengan Retno, Susy Susanti membagikan pengalamannya tumbuh di dunia yang didominasi laki-laki. Pesan untuk pantang menyerah menjadi kekuatan yang mendorongnya melangkah lebih jauh.

"Saya tumbuh di dunia yang didominasi laki-laki. Namun, pesan untuk pantang menyerah menjadi kekuatan bagi saya untuk terus maju, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membuka jalan bagi perempuan lain," kata Susy.

Dari perspektif berbeda, Nikita Willy berbicara tentang konsistensi di tengah ekspektasi publik. Ia mengaku belajar untuk tetap jujur pada diri sendiri di setiap fase kehidupan yang dijalaninya.

"Hidup di ruang publik membuat kita sering dihadapkan pada ekspektasi dan penilaian orang lain. Namun di setiap fase kehidupan, saya belajar untuk tetap jujur pada diri sendiri dan konsisten dengan apa yang saya jalani," tutur Nikita.

Melengkapi perspektif tersebut, Nadia Habibie mengangkat perspektif tentang makna privilese yang melekat pada perempuan. Menurutnya, privilese bukan semata soal kesempatan, tetapi juga tanggung jawab untuk memberi dampak bagi sekitar.

Women's Space: Dari Ruang Aman Menjadi Ekosistem Kepemimpinan

Di balik beragam perjalanan para narasumber, satu benang merah muncul ke permukaan. Tidak ada satu pun perempuan yang bertumbuh sendirian karena selalu ada lingkungan yang mendukung dan menopang di setiap fase kehidupan atau yang disebut the circle that holds her.

Akan tetapi, tidak semua perempuan memiliki akses terhadap dukungan semacam itu. Dari lebih seribu perempuan yang telah menjadi bagian dari komunitas women's space, kebutuhan terbesar yang muncul adalah keinginan untuk bertumbuh dalam ruang yang aman untuk mencoba.

Melihat kebutuhan tersebut, ParagonCorp menghadirkan women's space sebagai wadah bagi perempuan untuk bertumbuh, belajar, dan saling menguatkan.

Sejak dimulai pada 2023, inisiatif ini telah menjangkau lebih dari 10.000 perempuan melalui roadshow di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Makassar, dengan lebih dari 1.000 peserta yang kini tergabung aktif dalam komunitas.

Women's space dirancang sebagai wadah bagi perempuan penggerak Indonesia untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan. Selain itu, ruang ini juga ditujukan untuk meningkatkan keterampilan yang relevan serta membangun jejaring dalam lingkungan yang aman dan suportif.

Memasuki fase pengembangan berikutnya, ParagonCorp menghadirkan program mentorship sebagai langkah strategis untuk memperkuat dampak. Program ini berangkat dari keyakinan bahwa inspiration builds community, but mentorship builds leaders.

Program mentorship dikembangkan dalam empat pilar kepemimpinan, yaitu Leading Self, Leading Systems, Leading Enterprise, dan Leading Narratives.

Pilar-pilar tersebut didukung oleh para mentor perempuan dari berbagai latar belakang, seperti CEO APDC Indonesia sekaligus Psikolog, Konsultan, dan Trainer Analisa Widyaningrum, Founder & CEO Komodo Water Shana Fatina, Executive Board The Habibie Center sekaligus Executive Director Habibie & Ainun Foundation Nadia Habibie, serta Founder & CEO Zapfinance Prita Ghozie.

Melalui women's space, ParagonCorp menargetkan lahirnya perempuan-perempuan pemimpin yang tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu menciptakan dampak berkelanjutan di lingkungannya.

Inisiatif ini hadir dengan tujuan untuk nurture grounded women leaders who multiply positive impact across generations.

Tujuan tersebut sejalan dengan keyakinan ParagonCorp bahwa pertumbuhan seorang perempuan tidak berhenti pada dirinya sendiri. Dampaknya akan meluas ke keluarga, komunitas, hingga generasi berikutnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Berita Terkini
Atas